Belajar dan bertumbuh bersama Yesus Kristus yang adalah Guru dan Tuhan. Muridkan diri pribadi lebih dahulu sebelum memuridkan orang lain

February 27, 2019

Apa kata Alkitab mengenai perceraian dan pernikahan kembali?

Pertama-tama, apapun pandangan mengenai perceraian, adalah penting untuk mengingat kata-kata Alkitab dalam Maleakhi 2:16a: “Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel.” Menurut Alkitab, kehendak Allah adalah pernikahan sebagai komimen seumur hidup. “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Matius 19:6). Meskipun demikian, Allah menyadari bahwa karena pernikahan melibatkan dua manusia yang berdosa, perceraian akan terjadi. Dalam Perjanjian Lama Tuhan menetapkan beberapa hukum untuk melindungi hak-hak dari orang yang bercerai, khususnya wanita (Ulangan 24:1-4). Yesus menunjukkan bahwa hukum-hukum ini diberikan karena ketegaran hati manusia, bukan karena rencana Tuhan (Matius 19:8).

Kontroversi mengenai apakah perceraian dan pernikahan kembali diizinkan oleh Alkitab berkisar pada kata-kata Yesus dalam Matius 5:32 dan 19:9. Frasa “kecuali karena zinah” adalah satu-satunya alasan dalam Alkitab di mana Tuhan memberikan izin untuk perceraian dan pernikahan kembali. Banyak penafsir Alkitab yang memahami “klausa pengecualian” ini sebagai merujuk pada “perzinahan” yang terjadi pada masa “pertunangan.” Dalam tradisi Yahudi, laki-laki dan perempuan dianggap sudah menikah walaupun mereka masih “bertunangan.” Percabulan dalam masa “pertunangan” ini dapat merupakan satu-satunya alasan untuk bercerai.

Namun demikian, kata Bahasa Yunani yang diterjemahkan “perzinahan” bisa berarti bermacam bentuk percabulan. Kata ini bisa berarti perzinahan, pelacuran dan penyelewengan seks, dll. Yesus mungkin mengatakan bahwa perceraian diperbolehkan kalau terjadi perzinahan. Hubungan seksual adalah merupakan bagian integral dari ikatan penikahan, “keduanya menjadi satu daging” (Kejadian 2:24; Matius 19:5; Efesus 5:31). Oleh sebab itu, memutuskan ikatan itu melalui hubungan seks di luar pernikahan dapat menjadi alasan untuk bercerai. Jika demikian, dalam ayat ini, Yesus juga memikirkan tentang pernikahan kembali. Frasa “kawin dengan perempuan lain” (Matius 19:9) mengindikasikan bahwa perceraian dan pernikahan kembali diizinkan dalam kerangka klausa pengecualian, bagaimanapun itu ditafsirkan. Penting untuk diperhatikan bahwa hanya pasangan yang tidak bersalah yang diizinkan untuk menikah kembali. Meskipun tidak disebutkan dalam ayat tsb, izin untuk menikah kembali setelah perceraian adalah kemurahan Tuhan kepada pasangan yang tidak bersalah, bukan kepada pasangan yang berbuat zinah. Mungkin saja ada contoh-contoh di mana “pihak yang bersalah” diizinkan untuk menikah kembali, namun konsep tsb tidak ditemukan dalam ayat ini.

Sebagian orang memahami 1 Korintus 7:15 sebagai “pengecualian” lainnya, di mana pernikahan kembali diizinkan jikalau pasangan yang belum percaya menceraikan pasangan yang percaya. Namun demikian, konteks ayat ini tidak menyinggung soal pernikahan kembali dan hanya mengatakan bahwa orang percaya tidak terikat dalam pernikahan kalau pasangan yang belum percaya mau bercerai. Orang-orang lainnya mengklaim bahwa perlakuan sewenang-wenang (terhadap pasangan yang satu atau terhadap anak) adalah alasan yang sah untuk bercerai sekalipun Alkitab tidak mencantumkan hal itu. Walaupun ini mungkin saja, namun tidaklah pantas untuk menebak Firman Tuhan.

Kadang-kadang hal yang dilupakan dalam perdebatan mengenai klausa pengecualian adalah kenyataan bahwa apapun jenis penyelewengan dalam pernikahan, itu hanyalah merupakan izin untuk bercerai dan bukan keharusan untuk bercerai. Bahkan ketika terjadi perzinahan, dengan anugrah Tuhan, pasangan yang satu dapat mengampuni dan membangun kembali pernikahan mereka. Tuhan telah terlebih dahulu mengampuni banyak dosa-dosa kita. Kita tentu dapat mengikuti teladanNya dan mengampuni dosa perzinahan (Efesus 4:32). Namun, dalam banyak kasus, pasangan yang bersalah tidak bertobat dan terus hidup dalam percabulan. Di sinilah kemungkinanan Matius 19:9 dapat diterapkan. Demikian pula banyak yang terlalu cepat menikah kembali setelah bercerai padahal Tuhan mungkin menghendaki mereka untuk tetap melajang. Kadang-kadang Tuhan memanggil orang untuk melajang supaya perhatian mereka tidak terbagi-bagi (1 Korintus 7:32-35). Menikah kembali setelah bercerai mungkin merupakan pilihan dalam keadaan-keadaan tertentu, namun tidak selalu merupakan satu-satunya pilihan.

Adalah menyedihkan bahwa tingkat perceraian di kalangan orang-orang yang mengaku Kristen hampir sama tingginya dengan orang-orang yang tidak percaya. Alkitab sangat jelas bahwa Allah membenci perceraian (Maleakhi 2:16) dan bahwa pengampunan dan rekonsiliasi seharusnya menjadi tanda-tanda kehidupan orang percaya (Lukas 11:4; Efesus 4:32). Tuhan mengetahui bahwa perceraian dapat terjadi, bahkan di antara anak-anakNya. Orang percaya yang bercerai dan/atau menikah kembali jangan merasa kurang dikasihi oleh Tuhan bahkan sekalipun perceraian dan pernikahan kembali tidak tercakup dalam kemungkinan klausa pengecualian dari Matius 19:9. Tuhan sering kali menggunakan bahwa ketidaktaatan orang-orang Kristen untuk mencapai hal-hal yang baik.




 Sumber:  gotquestions.org

February 26, 2019

TUHAN ATAU MAMON


"Harta benda tidaklah abadi.....” (Amsal 27:24)


Pada abad ke-16 ada sebuah kisah tentang percakapan antara seorang pemuda yang ambisius dan atheis dengan seorang Kristen yang saleh bernama St. Philip Philip. Sang pemuda berkata kepada Philip dengan semangat: “Orangtua saya akhirnya menyetujui rencana saya untuk sekolah hukum!” Philip hanya menanggapinya dengan sebuah pertanyaan, “Lalu bagaimana?”


Ia menjawab, “Lalu saya akan menjadi seorang ahli hukum!” “Lalu?” kejar Philip. “Lalu saya akan mendapatkan banyak uang, membeli sebuah rumah di pedesaan, membeli kereta dan kuda-kuda, menikahi seorang wanita cantik dan menjalani hidup yang menyenangkan!” jawab pemuda itu.


Philip melanjutkan pertanyaannya, “Lalu?” “Lalu ....” Sehingga untuk pertama kalinya pemuda tersebut mulai merenungkan tentang kematian dan kekekalan. Ia menyadari bahwa ternyata selama ini ia tidak melibatkan Tuhan dalam rencana-rencananya, dan membangun hidupnya di atas nilai-nilai yang fana.


Kisah ini bukan berarti memiliki kekayaan itu salah. Namun jika kekayaan menjadi tujuan utama hidup kita, maka kita akan mengabaikan kekekalan dan mengejar uang, bukan Tuhan. Kristus mengatakan bahwa kita tidak mungkin mengabdi kepada harta dan kepada Allah (Matius 6:24). Dan Dia memperingatkan “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi...Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga” (Matius 6:19, 20).


TUJUAN HIDUP HANYA ADA DUA PILIHAN: HIDUP BAGI KRISTUS ATAU HIDUP UNTUK MAMON




Copyright @ 2018 CHRIST CATHEDRAL, GBI Basilea, Indonesia.

February 05, 2019

Perayaan Imlek bagi Orang Kristen Bolehkah ?

Nats: I Korintus 9:19;23

19 Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.

23 Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.

Di dalam Alkitab kita tahu bahwa kebenaran dinyatakan setahap demi setahap. Satu langkah demi satu langkah. Bagi orang yang belum diselamatkan, hal terutama dalam hidup ini adalah diselamatkan. Hal yang terutama yang perlu direnungkan dan dihayati, sesuatu yang sungguh harus diperoleh adalah keselamatan jiwa. Jika anda sudah diselamatkan, puji Tuhan! Langkah pertama sudah kita lewati! Jika belum, maka anda dalam bahaya besar. Dan jika anda sudah diselamatkan, maka langkah berikut kita adalah bagaimana kita membangun hidup ini supaya sepadanan dengan Injil Yesus Kristus. Jangan dibalik menjadi Injil dipadankan dengan hidup kita. Bukan Injil yang diubah, tetapi hidup kita yang harus diubah.

Dalam rangka inilah kita sebagai manusia, sebagaimana manusia sudah tersebar di seluruh dunia dan di seluruh bangsa sudah terbangun beraneka ragam adat istiadat, muncul banyak pertanyaan sejauh mana orang Kristen harus mengikuti adat-istiadat yang tidak melanggar kebenaran firman Tuhan

.

Minggu ini sebagian orang Tionghoa merayakan hari raya Imlek dan ini adalah momen yang cukup tepat untuk berbicara masalah adat-istiadat. Saya bertemu dengan banyak orang batak yang bertanya apakah adat Ulos itu boleh dilakukan? Demikian juga dengan perayaan Ngaben di Bali, perayaan di Toraja serta berbagai perayaan adat lainnya boleh dilakukan?

Saudaraku, banyak adat istiadat dari suku-suku bangsa yang kita tidak ketahui jika kita tidak berada di dalamnya. Orang Tionghoa tahu banyak hal mengenai adat istiadatnya saja. Demikian juga dengan orang Batak, Manado, dan suku-suku lainnya lebih tahu adat istiadat mereka sendiri. Dan ada banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam rangka seminar dan tanya jawab mengenai sejauh mana adat istiadat itu boleh diikuti.

Pagi ini saya ingin mengajak kita merenungkan hal ini. Rasul Paulus menuliskan di dalam surat Galatia, “Dan di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku.”(1:14) Saudaraku, apakah Paulus kemudian meninggalkan adat istiadat nenek moyangnya? Kisah Rasul 28:17 menjelaskannya. Paulus mengatakan, “Saudara-saudara, meskipun aku tidak berbuat kesalahan terhadap bangsa kita atau terhadap adat istiadat nenek moyang kita, namun aku ditangkap di Yerusalem dan diserahkan kepada orang-orang Roma.” Tetapi, jika kita membaca Matius 15:3, Tuhan Yesus memberi jawab kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat, “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?” Yesus dengan sangat tegas mengecam orang Yahudi yang sangat memelihara adat istiadat nenek moyang tetapi melanggar firman Tuhan. Jelas hal ini tidak boleh terjadi di dalam kekristenan, kita tidak boleh melanggar ketetapan firmanNya karena lebih mementingkan adat istiadat. Saudaraku yang terkasih dalam Tuhan, berarti harus ada suatu kesimpulan. Kesimpulan bagaimanakah sikap kita terhadap adat istiadat.

Kita bisa katakan bahwa setelah seseorang bertobat dan percaya Tuhan Yesus tuntutan Alkitab hanyalah kita harus meninggalkan dosa. Jikalau di dalam adat istiadat ada hal-hal yang bisa mendorong orang untuk berbuat dosa, janganlah lakukan itu.

Saya cukup dekat dengan kakek saya. Dia menceritakan bahwa pada masa penjajahan Belanda, setiap hari raya Imlek, selama tiga hari tiga malam orang boleh berjudi di jalan dan tidak akan apa-apa. Pada saat itu, orang yang tidak pernah judipun akan menjadi ikut-ikutan berjudi saat itu. Di Kalimantan Barat, setiap hari raya Imlek, anak-anak biasanya mendapat banyak “angpao,” karena mereka memegang banyak uang, biasanya mereka mulai belajar merokok dan berjudi. Bisa jadi, lewat dua tiga hari mereka terjerat iblis dan menjadi penjudi ataupun perokok berat.

Saudaraku, ingatlah seruan Alkitab untuk orang yang sudah bertobat untuk meninggalkan dosa. Dalam rangka meninggalkan segala dosa sangat mungkin ada banyak adat istiadat yang harus kita tinggalkan yang ada sangkut-paut dengan dosa di dalamnya. Dalam adat istiadat Tionghoa, dalam hal pernikahan, biasanya di kamar pengantin baru harus ada setandan pisang supaya anak cucunya banyak seperti pisang itu. Dan di dalam banyak acara besar terlihat banyak sekali mistik-mistikan di dalamnya. Orang Tionghoa harus berhati-hati di dalamnya. Biasanya waktu acara orang meninggal, orang Tionghoa akan berdiri di depan peti jenazah itu, yang Budha biasanya akan mengambil hio dan menyembah. Yang Katolik biasanya akan membuat “tanda salib” di dada mereka, yang Kristen datang dan bingung harus berbuat apa sehingga mereka pun mengambil sikap berdoa di depan peti. Sedangkan jikalau saya yang datang langsung makan kacang karena tidak ada signifikan untuk melakukan hal itu.

Di dalam hal adat-istiadat ada banyak hal positif dan juga ada hal negatif. Adat istiadat yang positif misalnya masalah jenjang hormat menghormati. Saya mendengar bahwa dalam tradisi orang Batak, jika marga yang satu mengadakan pesta maka marga yang lain itu akan menyuci piring.

Adat istiadat ada yang positif dan juga ada yang negatif. Dari segi negatif ada mistik-mistikan di dalam adat istiadat dan kita harus hati-hati di dalamnya. Sekali lagi, seruan Tuhan untuk orang Kristen yang sudah lahir baru adalah meninggalkan dosa, yaitu meninggalkan hubungan kita dengan iblis. Tanggalkanlah adat istiadat yang disusupkan oleh iblis di dalamnya. Tinggalkanlah semua adat istiadat yang memiliki unsur setan di dalamnya.

Hal kedua yang perlu mendapatkan perhatian adalah masalah adat istiadat berkaitan dengan moral. Paulus berbicara di dalam I Korintus 9:20-22, “Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.” Tetapi hal yang terpenting adalah jangan sampai kita ikut-ikutan sampai melupakan dua hal ini, yaitu masalah spiritual dan masalah moral.

Masalah moral erat kaitannya dengan masalah pakaian. Misalnya, ketika saya pergi menginjil ke orang Madura, tentu saya tidak boleh mengenakan pakaian “ala chinese” ke sana, karena itu tidak tepat. Ada baiknya saya berpakaian Madura supaya lebih mudah diterima. Tetapi, jika saya pergi menginjil ke daerah Irian, tentu saja saya tidak boleh berpakaian Koteka ke sana. Mengapa? Karena itu menyangkut masalah moral. Dapat dibayangkan seandainya ada yang memotret saya waktu pelayanan di sana dan hasil “jepretan”nya dibawa ke Jakarta. Tentu banyak yang akan heboh dan berkata, “Wah! Pak Suhento pakai Koteka!” Mungkin mereka akan membicarakan bentuk, ukuran, dan berbagai hal yang secara moral tidak baik. Tentu hal ini akan berbeda jika kita pergi menginjil di negara Sakura. Kita bisa aja mengenakan pakaian ala Jepang. Yang wanita tidak dilarang untuk menggunakan Kimono karena itu tidak melanggar moral. Tentu wanita tidak diizinkan menggenakan pakaian India yang terlihat pusarnya jika pergi pelayanan di sana, karena ada unsur moral di dalamnya. Karena ada sesuatu yang dilanggar. Jadi kita harus dapat memahami hal ini dengan sebaik mungkin. Rasul Paulus mengatakan bahwa ia mau melakukan segala sesuatu karena Injil. Mau menjadi apa saja supaya dapat menyelamatkan sebanyak mungkin orang itu.

Saya pernah berkomentar dengan seorang Jawa mengenai masalah Blankon. Saya mengatakan bahwa Blankon itu lumayan bagus. Kemudian dia memberitahu saya bahwa topi mereka itu mempunyai filosofinya. Katanya, ketika kita melihatnya, kita akan melihat bahwa ada suatu yang menonjol di bagian belakangnya, hal itu sesuai dengan sifat orang Jawa yang suka menyimpan kekesalan dan kemarahannya di belakang dan berpura-pura manut, sedangkan hatinya menyimpan perasaan “dongkol.” Sebagai orang Kristen tentu kita tidak boleh demikian. Filosofi itu tidak sesuai dengan nilai kekristenan. Firman Allah mengajarkan kita untuk berkata ya di atas ya dan tidak jika tidak!

I Korintus 14:40 mengajarkan prinsip mengenai masalah ini. “Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.” Pakaian ala Tionghoa yang saya pakai tentu tidak bertentangan dengan masalah moral. Saya banyak bertemu orang Tionghoa yang sudah uzur usianya, dan mereka sering berkata kepada anak-anak mereka jangan masuk agama orang barat. Padahal secara geografis saja mereka salah karena Yesus berasal dari daerah Timur Tengah yang termasuk daerah “timur.” Jadi jelas kekristenan tidak berasal dari daerah barat. Mungkin mereka melihat yang kotbah itu menggunakan dasi dan jas, sehingga agamanya dianggap sebagai agama barat. Intinya kita bukan percaya kepada agama dari barat maupun timur, kita hanya percaya kepada kebenaran.

Saudaraku, di dalam kita mengikut adat-istiadat ada hal positif dan negatif. Sebagai orang Kristen, kita perlu hati-hati mengenai ini. Kata hati-hati ini mempunyai arti yang sangat penting. Ketika saya kuliah di Amerika, saya bertemu dengan pastor yang sudah sangat tua. Dia dan istrinya pernah ke Indonesia. Ketika bersalaman dengan saya, ia tidak mengucapkan ucapan selamat ataupun kata-kata lainnya, tetapi ia berkata, “Hati-hati!” Saya kaget mendengarnya, kemudian ia menceritakan kisahnya ketika di sini. Ia menaiki taksi di negara ini, namun ia takut bukan main karena sopirnya “ngebut” banget. Sehingga dia bertanya apa kata Indonesia untuk carefull. Setelah itu, kemana saja dia pergi, ia terus mengingatkan supir taksi untuk hati-hati! Seumur hidup ia akan ingat kata-kata itu. Sehingga ketika bertemu saya dia mengucapkan kata ini. Hati-hati!

Saya pikir kata itu lebih penting daripada ribuan kata sapaan. Karena jika kita tidak hati-hati bisa repot jadinya. Jadi orang Kristen kita bisa salah langkah dan terjerembab karena tidak hati-hati. Oleh sebab itu, di dalam mengikuti adat istiadat kita perlu berhati-hati. Pakaian yang kita pakai tidak akan salah, jika pakaian itu sopan dan teratur. Jangan mengikuti kegiatan-kegiatan yang menjurus kepada sesuatu yang dapat menyakiti hati Tuhan, yaitu kegiatan-kegiatan yang ada unsur mistik-mistikan di dalamnya maupun unsur-unsur moral yang sudah agak miring.

Saudaraku, banyak budaya di dunia ini yang iblis sudah memiliki “saham” di dalamnya sehingga ada banyak unsur magis dan agak sedikit kacau dalam masalah moral di dalamnya. Saya kaget ketika membaca buku yang menceritakan adat-istiadat orang Eskimo sebelum Injil masuk ke sana. Dalam tradisi mereka, setiap ada tamu yang datang berkunjung ke rumah, maka tuan rumah akan memberikan istrinya sebagai teman tidur tamu. Baru ketika mereka mengenal kebenaran mereka meninggalkan kebiasaan itu.

Oleh sebab itu, sebagai orang Kristen kita harus berhati-hati. Pertama, kita perlu diselamatkan. Jika kita sudah diselamatkan, tuntutan Tuhan dalam hidup kita adalah meninggalkan dosa dan segala hal yang ada hubungannya dengan iblis karena kita sudah dimerdekan dan menjadi milik Tuhan. Kita harus meninggalkan semua hal negatif itu, termasuk di dalamnya adat istiadat yang ada hal-hal yang demikian. Amin!


Sumber : Khotbah Dr. Liauw (2 Februari 2003)
Disadur ulang oleh Ev. Chandra Johan
http://www.gbiasemarang.blogspot.com, http://www.lexicalife.blogspot.com, http://www.trainingyourchildren.blogspot.com

Our Sponsor


Anda diberkati dengan website ini ?
Bantu pengembangan website
 lewat Donasi :





Transfer Bank klik:


Berlangganan Melalui Email

Masukan alamat email anda:

Pastikan emailAktif

Data Kunjungan

Powered by Blogger.

Blog Archive

Blog Archive

Join with us

Support Community

Followers

Total Pageviews

Ads