Belajar dan bertumbuh bersama Yesus Kristus yang adalah Guru dan Tuhan. Muridkan diri pribadi lebih dahulu sebelum memuridkan orang lain

December 31, 2016

Menjadi Berkat


Ayat Renungan:

Markus 2:5  Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!"

Baca Selengkapnya: Markus 2:1-12

Di tengah lilitan berbagai masalah hidup, banyak orang yang kehilangan pengharapan. Akibatnya ada yang terjerumus pergaulan bebas, obat-obatan, atau kejahatan lain. Bagaimana sikap kita seharusnya terhadap mereka?

Teks Alkitab memperlihatkan begitu banyak orang yang datang menemui Yesus, ketika Ia datang kembali ke kota mereka (ayat  Mr 2:1; lih.  Mr 1:21). Mereka ingin mendengar pengajaran-Nya yang penuh kuasa. Mereka juga ingin melihat Dia melakukan mukjizat (ayat  Mr 1:22,27). Bagaimana respons Yesus? Ia memberitakan Injil kepada mereka (ayat  Mr 1:2).

Tiba-tiba ada gangguan. Empat orang datang menggotong seorang yang lumpuh (ayat  Mr 1:3). Mereka mengharapkan Yesus menyembuhkan teman mereka. Namun kerumunan orang menghalangi mereka. Menyerah? Jangan. Yesus sudah di depan mata! Bila si lumpuh bisa dihadirkan di depan Yesus, tentu ia akan disembuhkan. Lalu bagaimana caranya? Dengan semangat pantang menyerah, mereka naik ke atap rumah dan membongkar (ayat  Mr 1:4). Berhasilkah usaha mereka? Ya. Si lumpuh diturunkan di depan Yesus. Iman kawan-kawan si lumpuh menyebabkan Yesus merespons lebih dari yang mereka harapkan. Ia bukan hanya menyembuhkan si lumpuh (ayat  Mr 1:11), melainkan juga mengampuni dosanya.

Iman keempat orang itu sungguh luar biasa. Bukan hanya percaya secara pasif, tetapi ada tindakan aktif yang menyatakan keyakinan mereka pada kuasa Yesus dalam menyembuhkan penyakit. Iman mereka berperan besar dalam hidup si lumpuh sehingga dia dapat berjalan dan menikmati hidup dalam pengampunan Tuhan.

Bagaimanakah peranan kita bagi hidup orang-orang di sekitar kita? Bagi ayah dan ibu yang sudah berusia lanjut, bagi tetangga yang membutuhkan perhatian, bagi rekan yang perlu pertolongan, dan seterusnya. Di awal tahun ini mari kita pikirkan suatu tindakan yang dapat menjadi berkat bagi mereka. Sesuatu yang memungkinkan mereka mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus.

Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan Artikel ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

Pengharapan Yang Menguatkan


Ayat Renungan: 2 Korintus 5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Baca Selengkapnya: 2 Korintus 4:16-5:10

Secara manusiawi Paulus lemah, tetapi secara rohani dengan setia Allah menyertai dan menguatkan perjuangan iman dan pelayanannya (ayat  2Kor 5:16-17). Sekalipun daya fisik Paulus makin menurun, baik karena usia maupun penderitaan yang terus menerus, namun semangatnya menginjili tetap menyala-nyala. Mengapa? Karena dia sangat yakin bahwa di balik semua penderitaan ini kelak tersedia kemuliaan dari Tuhan (ayat  2Kor 5:17). Bagi orang yang berorientasi pada upah yang kelihatan, seperti uang, materi dan lain-lain, ucapan Paulus ini kelihatan omong kosong, tetapi bagi orang percaya, harapan itu benar (bdk.  Rom 5:2). Semangat dan harapan demikian harus tetap dipegang oleh pengikut Kristus.

Kehendak Tuhan makin nyata. Di dalam penderitaannya Paulus mengalami banyak berkat rohani. Ia belajar mengandalkan kekuatan rohani, bukan jasmaninya. Ia juga makin memusatkan perhatian kepada harapan surgawi, bukan pada gemerlap duniawi (ayat  Rom 5:1). Sementara menanti penggenapan janji itu, ia sudah mengalami "uang mukanya" dalam bentuk kuasa Roh (ayat  Rom 5:5). Dengan demikian ia belajar hidup dan melayani dalam iman bukan dalam penglihatan. Ia tahu, rumah kekalnya adalah surga, bukan dunia yang menuju kebinasaan ini (ayat  Rom 5:8b).

Apapun yang anda telah lewati di tahun 2016 bukanlah ukuran mencapaian anda di tahun yang akan datang ketahuilah bahwa anda memiliki sesuatu yang lebih besar yang Tuhan sediakan untuk anda raih di tahun yang baru. Harapan adalah kekuatan yang harus anda miliki sekarang ini, karena dengan harapan dan keyakinan bahwa hidup didalam TUHAN akan mengubahkan keadaan anda yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Ingatlah ! Tiada satu perkara yang mustahil bagi TUHAN ! Dan hal itu berlaku untuk anda yang tetap menaruh harapan didalam TUHAN.

2 Korintus 5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Doa: Tuhan Yesus, berikanlah kekuatan hati kepadaku agar aku tetap setia dan percaya bahwa segala harapanku didalam Engkau tidak ada yang sia-sia. Amin

Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan Artikel ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

December 23, 2016

Natal: Suatu Pergumulan hidup



Lukas 1: 30

Kata malaikat itu kepadanya: Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.

Malaikat Gabriel  datang kepada Maria (1:26) dan menyatakan bahwa Maria mendapat kasih karunia (1:30). Pertanyaannya adalah betulkah Maria mendapatkan kasih karunia? seringkali banyak orang mengidentikan kasih karunia  dengan sebuah keberuntugan, berkat materi, kesehatan dll, singkatnya kalau dikatakan mendapat kasih karunia berarti tidak adanya pergumulan, masalah atau himpitan hidup. Namun apakah Maria dikatakan mendapat kasih karunia berarti ia mendapat keberuntungan atau dengan kata lain ia tidak mendapatkan pergumulan? Apabila kita menyelidiki Firman Tuhan ini secara mendalam maka dapatlah kita menemukan bahwa kasih karunia yang dikaruniakan bagi Maria tercantum dalam Lukas 1:31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Jadi kasih karunia yang dimaksud adalah Maria akan mengandung seorang bayi. Seandainya Maria sudah mempunyai suami yang sudah disyahkan (seperti gereja saat ini yaitu melalui pernikahan), maka ini betul merupakan sebuah kasih karunia, sebab suatu keluarga pasti merindukan  buah hati. Namun posisi Maria dan Yusuf pada saat itu masih dalam taraf pertunangan (bnd  Lukas 1:43 Kata Maria kepada malaikat itu: Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami dan Matius 1: 18 …Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri). Dengan demikian problem yang dihadapi oleh Maria adalah memiliki anak sebelum memiliki suami. Jikalau dipikir apakah ini kasih karunia atau pergumulan? mungkin orang akan berpikir bahwa tetapi Maria sudah tahu bahwa yang dikandung adalah  Yesus Kristus yang akan menghapus dosa dunia. Betul bahwa Maria tahu hal itu karena disampaikan oleh Malaikat Tuhan (bdg Lukas 1:31-32). Namun pertanyaannya adalah apakah orang-orang disekitar Maria mengetahui tentang maksud yang Mulia itu atau tidak ? jawabannya tentu tidak, maka disinilah problemnya. Sehingga ketika Maria bersedia menerima kehendak Tuhan agar kandungan dipakai oleh Tuhan untuk mengandung dan melahirkan Kristus maka pada saat itu Maria harus siap menerima beberapa konsekwensi

1. Ia harus siap dituduh berzinah dan diceraikan oleh Yusuf tunangannya. (dalam konteks pertunangan pada zaman Yusuf dan Maria  harus berpisah dengan cara bercerai) dan tindakan ini sempat dipikirkan dan diambil oleh Yusuf secara diam-diam (Matius 1:19).

2. Ia harus siap menghadapi tantangan dari pihak keluarga, oleh karena konsekwensi kandungannya tidak hanya dipikul oleh Maria, namun juga  berakibat untuk semua kamu keluarga Maria.

3. Ia harus siap menghadapi cemooh dari lingkungan yang ada disekitarnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa linkungan mengetahui bahwa hubungan Yusuf dan Maria hanya sebatas pertunangan, maka kandungan Maria menjadi buah bibir disekitar lingkungannya.

4. Ia harus siap menghadapi tuntutan hukum Taurat yaitu barangsiapa berzinah maka ia harus dibawa keluar dari daerah tersebut dan dirajam dengan batu sampai mati,  sebab perzinahan adalah aib.

Dengan demikian maka dari satu sisi Maria patut bersukacita sebab ia dipercayakan oleh Allah untuk mengandung bayi Yesus yang adalah Juruselamat dunia, namun dalam sisi yang lain ia harus menghadapi pergumulan dan tantangan  hidup. Situasi inilah yang dihadapi oleh Maria pada saat Natal.  Namun dalam kondisi ini kita dapat belajar dari respon Maria ketika berita Natal itu disampaikan kepadanya terdapat dalam  Lukas 1:38  Kata Maria: Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.

Dari ayat ini kita dapat menemukan respon Maria terhdapat berita Natal tersebut:

1. Ia mengenal dirinya sebagai seorang hamba Tuhan. Dimana seorang hamba tidak berhak untuk hidupnya sendiri, namun sebaliknya Tuannya yang berhak untuk hidupnya, sehingga ketika Maria menemukan bahwa  dirinya adalah milik Tuhan maka yang berkuasa penuh atas hidupnya bukan dia melainkan Tuhan. Oleh sebab itu Berita Natal membawa kita untuk mengenal dan mengevaluasi hidup kita apakah betul kita sudah menjadi milik Tuhan dan apabila selama ini kita sudah mengklaim diri kita sebagai milik Tuhan apakah hidup kita juga sudah menunjukan bahwa kita milik Tuhan.

2. Maria tetap taat kepada Tuhan apapun konsekwensinya ia berkata Jadilah padaku seperti perkataanmu itu. Ia siap masuk dalam kehendak Tuhan walaupun kasih karunia tersebut harus melewati kesulitan , pergumulan hidup dan tantangan hidup. Sebab sebagai hamba Tuhan ia harus siap taat kepada Tuhan, ia tidak boleh menolak kehendak Tuhan.

3. Pertanyaannya adalah mengapa Maria berani mengambil keputusan ini jawabanya ada pada ayat sebelumnya bahwa Tuhan berfirman kepada Maria melalui Malaikat Tuhan dalam Lukas  1:37. Bagi Allah tidak ada yang mustahil terjemahan yang lain mengatakan bahwa Bersama dengan Allah tidak ada yang musthil. Inilah yang menjadi kekuatan bagi Maria untuk menerima kehendak Tuhan. Sehingga pada akhirnya semua pergumulan dan konsekwensi di atas di dalam kedaulatan Tuhan tidak dialami oleh Maria, sampai pada Yesus kristus lahir.

Aplikasi hidup:

Dalam hidup ini banyak orang yang mengklaim diri mereka sebagai orang percaya namun tidak taat kepada pimpinan dan kehendak Tuhan sebab mereka lebih melihat tantangan atau pergumulan yang akan dihadapi ketika menjalankan kehendak Tuhan, ketimbang melihat Tuhan dan rencana-Nya yang besar, sehingga membuat mereka melarikan diri dari kehendak Tuhan kadang dengan alasan-alasan rohani. Namun seharusnya siapapun kita yang telah memproklamirkan dirinya sebagai orang percaya harus percaya dan taat bahwa apapun konsekwensi dalam menjalankan kehendak Tuhan ia tetap setia kepada Tuhan. Sebab  kita tetap percaya bahwa bersama dengan Tuhan kita dapat menanggung  semua kesulitan tersebut sebab Tuhan lebih besar dari pergumulan hidup.

Salam dalam damai Natal

Sumber: Air Hidup

Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan Artikel ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

December 21, 2016

Makna Natal yang Sejati



Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.” (Yohanes 1:9-10)

 Ketika Yesus dilahirkan di Betlehem lebih dari 2000 tahun yang lalu, peristiwa itu hanya disaksikan oleh orang-orang awam saja. Kedatangan Raja di atas segala raja, Sang Raja Damai yang sudah dinubuatkan beribu-ribu tahun sebelumnya, bahkan difirmankan oleh TUHAN sendiri (Kejadian 3:15), tidak digenapi dengan penuh kemegahan di hadapan penguasa-penguasa dunia, orang-orang terkenal, atau para bangsawan lainnya.

Melainkan sebaliknya, Ia lahir di dalam sebuah kandang hewan peliharaan, dibungkus dengan sehelai lampin dan dibaringkan di dalam sebuah palungan kayu yang tidak beharga, karena pada saat itu tidak tersedia satu pun kamar yang kosong di rumah-rumah penginapan bagi ibu-Nya, Maria, serta Yusuf, suaminya. (Lukas 2:7)

 Kisah kelahiran-Nya yang tampak tidak berarti dan sangat sederhana itu ternyata bisa bertahan mengarungi waktu, … selalu relevan bagi kehidupan umat manusia sepanjang masa. Setiap tahun setiap generasi di seluruh dunia, secara langsung atau tidak, mendengar, mengenang dan memperingati kejadian bersejarah tersebut, yang terbukti sampai sekarang masih tetap berkuasa untuk mengubah sikap hidup mereka.

 Selain mengirim ketiga orang majus dari Timur (Matius 2:1-12), Tuhan hanya memakai orang-orang biasa saja sebagai saksi-saksi kelahiran Anak-Nya yang tunggal itu. Alkitab mengatakan, bahwa gembala-gembala yang sedang menjaga kawanan ternak mereka di padang dipilih oleh-Nya untuk menjadi saksi-saksi pertama kelahiran Kristus. Bukan para ahli Taurat, orang-orang Farisi atau orang-orang terpelajar lainnya!

 Malam itu mereka melihat dan mendengar pujian yang dinyanyikan oleh sejumlah besar bala tentara sorga: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Lukas 2:14)

 Padahal pada abad yang pertama, status para penggembala domba di Israel tergolong amat rendah. Kesaksian-kesaksian mereka tidak bisa diterima oleh orang-orang Yahudi di sistim pengadilan mereka. Kendatipun demikian, Tuhan memilih dan menjadikan mereka saksi-saksi yang sah untuk memberitakan kedatangan Tuhan Yesus di dunia. Injil Lukas mencatatnya seperti ini: “Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.” (Lukas 2:18)

 Sampai saat ini Tuhan masih tetap memilih orang-orang biasa sebagai saksi-saksi-Nya untuk memperingati dan memberitakan kabar gembira mengenai kelahiran seorang Juruselamat yang terjadi 2000 tahun yang lalu. Ia terus menggunakan orang-orang awam seperti kita untuk menyampaikannya kepada orang-orang yang sangat memerlukannya.

Ya, … Tuhan mau dan bisa memakai kita! Oleh karena itu kita tidak perlu mempertanyakan tujuan-Nya memanggil dengan meragukan kelayakan diri kita sendiri: “Apakah Tuhan bisa memakai seorang yang tidak berarti seperti aku, yang tidak memiliki kepandaian apa-apa? Apakah aku mampu melakukannya?”

Jika Allah Bapa di sorga mau menggunakan para gembala dipadang sebagai saksi-saksi yang mutlak atas kelahiran Anak-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus, tentu Ia juga berkenan memakai kita. Yang dituntut oleh-Nya hanya sikap hati yang taat, yang mau memberitakan peristiwa tersebut kepada orang-orang lain seperti apa adanya, seperti yang tertulis di dalam firman Tuhan. Tanpa menambahkan ‘embel-embel’ lain yang sudah dilazimkan oleh umum, dan yang sekarang ternyata berhasil menyelewengkan kebenaran makna hari bersejarah itu.

Yesus-lah inti perayaan hari Natal yang diadakan setiap tahun di seluruh dunia. Dia-lah penyebab hari tersebut dirayakan sebagai suatu peringatan akan kedatangan Allah yang telah bersedia merendahkan diri-Nya sendiri, … menjelma menjadi manusia, agar kita, anak-anak manusia, bisa disebut sebagai anak-anak Allah. (Galatia 3:26)

 Setiap orang mempunyai arena-arena sendiri yang bisa dipakai sebagai alat untuk membagikan kebenaran firman Tuhan mengenai peristiwa itu. Baik secara perseorangan, lokal, nasional, maupun internasional. Semua itu mempunyai harga yang sama, karena bukan besarnya jumlah pendengar/pembaca/pemirsa yang berkenan di hati-Nya, melainkan motif-motif pelayanan mereka yang bersedia melakukannya.

 Marilah kita, melalui setiap media yang sudah disediakan oleh Tuhan untuk kita, bersama-sama memproklamirkan tanpa kompromi kisah kelahiran Sang Penebus. Menggunakan setiap kesempatan yang tersedia melalui arena masing-masing, marilah kita menjadi saksi-saksi-Nya yang mau membagikan kebenaran makna kisah Natal seperti apa adanya, … seperti yang sudah dilakukan oleh para penggembala domba di Betlehem pada saat kelahiran Tuhan kita, Yesus Kristus!

 Agar … dunia mengerti kebenaran ayat ini: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

 Terpujilah nama Tuhan sampai selama-lamanya. Haleluya!

Sumber: Air Hidup

Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan Artikel ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

Pergeseran Makna Natal



Yesus lahir dalam kesederhanaan. Dia adalah Raja, jadi sebenarnya Dia dapat memilih tempat dimana Dia akan dilahirkan. Dia bisa saja memilih istana yang megah dan penuh keindahan, tetapi sebaliknya Dia memilih kandang dengan bau yang mungkin saja menyengat. Dia bisa saja memilih untuk diletakkan di pembaringan yang empuk, tapi Dia justru memilih palungan. Dia bisa saja memilih sutra termahal untuk menyelimuti-Nya -- ingat, Dia Raja dan Tuhan -- tetapi Dia membiarkan kain lampin yang kasar dan sederhana membungkus-Nya. Saat Dia lahir, bisa saja Dia mengundang pembesar dan golongan bangsawan untuk datang melihat-Nya, tetapi Dia justru memilih para gembala sebagai tamu kehormatan! Kelahiran Kristus itu sederhana, bahkan sangat sederhana. Namun anehnya Natal sekarang ini sudah identik dengan kemewahan. Kalau tidak mewah, bukan Natal namanya. Jika anggaran dana Natal tidak membengkak sampai berpuluh-puluh juta, Natal yang kita peringati serasa kurang afdol. Dengan dalih rohani, kita selalu berkata bahwa kita sedang menyambut kelahiran Raja di atas segala raja, sehingga segala pemborosan yang kita berikan tidak berarti sama sekali.

Memang tidak pantas jika kita membuat perhitungan finansial terhadap Tuhan. Namun, apakah benar semua kemewahan itu untuk Tuhan, ataukah sebaliknya untuk memuaskan keinginan kita sendiri? Bukankah sejujurnya kita sungkan dengan tamu undangan yang datang dalam acara Natal kita itu, sehingga mau tidak mau kita akan menyiapkan acara itu semewah mungkin? Padahal bisa saja kita merayakan Natal dalam kesederhanaan tanpa mengurangi esensi Natal itu sendiri. Seandainya waktu bisa diputar ulang, saya ingin kembali ke Natal yang pertama untuk menyaksikan dan merasakan sendiri bagaimana suasana di Betlehem. Sementara semua penduduk desa kecil itu sudah tertidur pulas, di suatu tempat, tepatnya di sebuah kandang sederhana, terlihat Yusuf dengan Maria yang sedang menggendong Sang Mesias. Serombongan gembala datang dengan ekspresi yang belum pernah terlihat sebelumnya. Suasana di sana begitu hangat, tenang, teduh dan dipenuhi kedamaian yang tak terkatakan.

Natal pertama memang diwarnai dengan kedamaian. Dua puluh abad kemudian, Natal masih diperingati. Kisahnya masih terus diceritakan. Bahkan cerita Natal itu tampaknya tidak pernah usang. Hanya sayang, kedamaian yang menyelimuti Natal pertama berangsur-angsur hilang. Kini kita memperingati Natal, tapi tak pernah merasa damai. Sebaliknya, Natal tidak lebih dari kegiatan tahunan yang membuat kita letih. Bahkan kadang kala kita memperingati dengan kegelisahan dan kegalauan dalam hati. Kehadiran Sang Mesias tidak cukup memberi rasa tenang dan rasa aman. Berita kelahiran Juruselamat tidak sanggup menghembuskan rasa damai di hati kita. Tak heran jika Natal tidak begitu berkesan dalam hidup kita. Sama sekali tidak membekas. Bahkan berlalu begitu saja. Jika kita mau merenungkan lebih jauh, bukankah benar bahwa makna Natal dalam pengertian yang sebenarnya telah bergeser begitu jauh? Makna Natal yang sebenarnya diganti dengan hal-hal lahiriah. Digantikan dengan pesta pora, hura-hura, dan kemewahan yang sia-sia. Dilewatkan begitu saja, bahkan sebelum kita bisa mengambil waktu sejenak untuk berefleksi.

Alangkah indahnya jika kita bisa kembali ke Natal yang pertama. Merasakan Kristus dalam kesunyian, membuat jiwa kita lebih peka terhadap suara-Nya. Merasakan Kristus dalam kesederhanaan, menggugah empati kita terhadap sesama yang hidup dalam kekurangan, yang dilanda bencana atau yang sedang dirundung kesedihan. Merasakan Kristus dalam embusan damai, mengusir jiwa yang gelisah dan resah.

Sumber: AirHidup.com

Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan Pelajaran ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

December 20, 2016

Natal: Pemberian Terbesar


Tanpa terasa Natal telah kembali menyapa kita.  Berbagai acara telah dipersiapkan menyambut hari istimewa ini. Pusat-pusat perbelanjaan sibuk mendandani dirinya dengan berbagai ornament Natal yang menarik yang diharapkan dapat menarik perhatian pengunjung. Tak ketinggalan Stasiun-stasiun TV menawarkan berbagai program acara yang menarik perhatian pemirsanya.
Sungguh sangat disayangkan bahwa yang seharusnya menjadi pusat perhatian adalah Kristus Sang Bayi Natal, namun kenyataannya acara-acara yang menarik, hiasan-hiasan yang menarik, lagu-lagu yang indah, semuanya itu telah menarik perhatian kita dari Sang Bayi Natal. Mungkin prosentase perhatian kita terhadap persiapan Natal itu sendiri jauh lebih besar ketimbang persiapan hati kita yang mau kembali merenungkan betapa indahnya karya keselamatan yang dirancangkan Allah lewat peristiwa menakjubkan ini, Natal yang membawa damai dimana Kristus telah lahir.
Mari kita merenungkan kembali Natal pertama di mana Kristus dilahirkan dalam kondisi yang serba sederhana.
Kelahiran yang sederhana
Bagi Paulus Natal adalah ketika Kristus menjadi miskin karena kita (II Korintus 8:9a). Mengapa tidak, kemiskinan Kristus telah dibuktikan dengan keadaan dan simbol-simbol yang dipergunakan ketika Ia masuk dalam sejarah manusia.  Dimana Peristiwa Natal ini terjadi bukan di Yerusalem melainkan di kota kecil Betlehem, bukan di istana melainkan kandang yang hina dan berbau, bukan di singgasana melainkan palungan tempat makanan untuk domba-domba, bukan raja dengan jubah kebesaran melainkan  Bayi terbungkus lampin yang rentan terhadap malam yang dingin dan suasana yang amat tidak nyaman, simbol-simbol ini tidak ada yang monumental dan spektakuler. Selanjutnya Bayi ini lahir bukan dari keturunan bangsawan atau darah biru (nigrat)  yang, menunjukkan bahwa Ia adalah pewaris kerajaan secara silsilah. Namun ia memakai kandungan seorang gadis sederhana dari kota  Betlehem, ditunjang dengan pekerjaan Maria dan Yusuf sebagai  tukang kayu sehingga Anak ini lahir sebagai anak tukang kayu. Bahkan yang lebih menyedihkan adalah para gembala sewaan yang buta huruf yang sedang menjaga  domba orang lain bukan siapa-siapa  yang namanyapun tidak dicatat serta  memiliki reputasi yang jelek sampai orang Yahudi yang terhormat mengelompokkan mereka  orang tak bertuhan dan membatasi mereka di halaman luar rumah ibadah, dipilih oleh Allah  untuk turut merayakan kehadiran Bayi Natal itu dalam kandang yang hina.
Dengan kondisi kesederhanaan demikian apakah Bayi yang kecil dan lemah ini tidak memiliki arti apa-apa melalui peristiwa kelahiran-Nya di dalam sejarah manusia? Paulus menjawab pertanyaan ini dengan melanjutkan bahwa supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (II Korntus 8:9 b). Ungkapan Paulus secara tidak langsung menunjukkan bahwa bayi Natal ini dalam kehadiran-Nya membawa pemberian yang sangat besar untuk memperkaya orang percaya. Pemberian terbesar itu ditelusuri dalam pribadi-Nya  dan  pemaknaan-Nya dalam dunia ini.
Sederhana Namun Terbesar
Bayi Natal kecil yang lahir dalam suasana yang sederhana ternyata bagi Yohanes dan Paulus adalah sebuah pemberian terbesar sebab  Bayi tersebut adalah Anak Allah itu sendiri. Rasul Yohanes menulis dalam Yohanes 3:16 bahwa : Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya barang siapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.  Rasul Paulus menulis kepada jemaat di  Roma dalam Roma 8:32  Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua. Anak Allah yang dimaksud adalah:
1. Yesus Kristus ( Matius 1:21; Lukas 1:31)
Nama "Yesus" berasal dari bahasa Yunani, yang merupakan alihaksara dari bahasa Ibrani yaitu: Yeshua, yang berarti : Keselamatan, atau "Yahweh adalah keselamatan", "Yahweh menyelamatkan". Bahkan dalam Mzm.33:8 menyebut bahwa oleh firman TUHAN langit telah dijadikan sedangkan Yesus disebut sebagai Firman yang menciptakan segala sesuatu (Yoh.1:1-18), jadi kedua penyataan itu identik menunjuk pada Yesus. Yesus disamakan dengan YHWH sebagai Alpha dan Omega (Why.22:13;band.1:8;21:6) dan Awal dan Akhir (Why.1:17; 2:8; band.21:6;Yes. 44:6; 48:12), jadi Yesus bukan ciptaan tetapi bersama-sama dengan Bapa dan Roh Kudus adalah Pencipta. Yohanes 5:21,27 menjelaskan bahwa bukan Bapa yang menghakimi dunia ini, tetapi penghakiman itu telah diserahkan kepada Anak (Yesus), sehingga Yesus adalah Hakim yang Agung akan menghakimi seluruh dunia.  Sedangkan kata "Kristus" adalah gelar yang dikenakan kepada Yesus, berasal dari bahasa Yunani [Christos], dan dalam bahasa Ibrani "Meshias", berarti "yang diurapi" atau "yang terpilih". Kata yang diurapi yang menunjukkan kepada tiga jabatan yang dimiliki oleh Yesus yaitu  Raja, Imam dan Nabi. Istilah Mesias ini digunakan oleh bangsa Yahudi untuk menyatakan harapan mereka akan kedatangan "Dia atau seseorang yang telah diurapi, yang dikirim oleh Allah, sebagaimana yang dikatakan atau dinubuatkan oleh nabi-nabi Perjanjian Lama. Untuk menyelamatkan bangsa Israel dari penindasan"
Dengan demikian Bayi Natal yang lahir dalam kandang yang hina yang dibungkus dengan kain lampin adalah Allah yang menyelamatkan (Juruselamat), Allah Pencipta alam semesta, Hakim yang Agung serta Mesias yang diurapi menjadi Raja, Imam dan Nabi.
2. Pribadi kedua dari Allah Tritunggal
Pengertian Allah tritunggal adalah Tiga oknum/pribadi Allah yang berbeda (Bapa, Anak dan Roh Kudus) namun Esa dan Sehakekat di dalam esensinya yang adalah Allah, ini dinyatakan dalam Alkitab sejak awal kitab Kejadian (Kej.1:1-2 band. Yoh.1:1) sampai akhir kitab Wahyu (Why.21;22). Ketiganya ada sejak Alpha dan Omega (Why. 1:8;21:6;22:13) dan Arche dan Telos (Yang Awal dan Akhir, Why.1:17;2:8;21:6;22:13), ketiganya dibedakan, namun ketiganya adalah Allah yang Esa yang sama-sama bekerja dalam penciptaan, penyelamatan, dan penghakiman di Akhir Zaman.
Dengan demikian pribadi yang terbaring dalam palungan adalah Oknum Kedua dari Allah tritunggal yang di utus oleh Bapa ke dalam dunia.

Pemaknaan dari kehadiran Pemberian Terbesar :
Melalui kehadiran Yesus Kristus dalam dunia maka orang percaya menerima karya yang terbesar dalam dunia ini yaitu:
1. Melalui peristiwa ini Allah memaknai  Kekristenan sehingga berbeda dengan agama lain.
Pengertian agama secara umum adalah usaha manusia mencari dan mengenal Allah[1], tetapi melalui peristiwa Natal memberikan warna dan arti yang berbeda pada kekristenan. Perbedaan tersebut terletak pada bukan manusia yang mencari Allah tetapi  Allah sendiri di dalam kedaulatan-Nya berinisiatif mencari manusia agar manusia dapat mengenal-Nya dan manusia diselamatkan[2]. Oleh sebab itu Allah di dalam Tuhan Yesus merupakan Allah yang adalah  kasih ( I Yoh 4:8), Ia tidak membiarkan manusia ciptaan-Nya berusaha sendiri untuk kembali kepada-Nya, karena Ia mahatahu bahwa apapun usaha manusia, berapa pun banyaknya perbuatan baik manusia tidak akan membawa manusia dapat sampai kepada Allah sang Penciptanya, karena manusia adalah ciptaan yang terbatas dan telah dicemari oleh dosa. Oleh sebab itu Natal adalah sebuah momentum yang sangat berarti bagi orang percaya untuk memiliki pengenalan yang jelas akan Allah yang disembah, sebab Natal berbicara tentang Allah yang mendunia, memanusia yang datang untuk menyapa manusia. Selanjutnya di dalam kekristenan Allah di dalam Yesus Kristus adalah Allah yang sangat peduli terhadap ciptaan-Nya, sehingga Ia sendiri berinisiatif untuk mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang manusia dan bergaul akrab dengan manusia serta merasakan apa yang dirasakan oleh manusia (Filipi 2:5-7). Sedangkan di dalam agama lain Allah yang disembah adalah Allah yang jauh yang perlu disembah dan dipanggil dengan menggunakan pengeras suara. (bnd I Raja-raja 18:27-28).
2. Peristiwa ini Merupakan Titik Awal Manusia Dibebaskan dari Perhambaan Dosa dan maut.
Peristiwa Natal dikatakan sebagai titik awal manusia dilepaskan dari perhambaan dosa dan maut. Peristiwa Natal harus mendahului  peristiwa Kalvari dan peristiwa kebangkitan Kristus, karena tanpa peristiwa Natal, maka peristiwa Kalvari dan kebangkitan tidak mungkin terwujud. Ketiga peristiwa ini (kelahiran, kematian dan kebangkitan) adalah suatu rentetan kejadian yang merupakan sebuah bukti kemenangan Kristus atas dosa dan maut, maka selanjutnya kemenangan Kristus atas dosa dan maut menjadi jaminan bagi orang percaya bahwa mereka tidak lagi diperhamba oleh dosa dan maut tetapi menjadi hamba kebenaran atau hamba Allah. ( Roma 6:17-19, 22).
3. Jaminan Satu-satunya agar Manusia Diselamatkan.
Tujuan Allah datang ke dalam dunia di dalam pribadi Yesus Kristus adalah untuk menyelamatkan manusia yang berdosa, maka Ia sendiri yang memberikan jaminan satu-satunya tentang kepastian keselamatan untuk mewarisi kerajaan sorga. Tidak ada jalan lain yang dapat menjadi mediator untuk memberikan keselamatan kepada manusia baik itu perbuatan baik melalui amal ibadah, pendiri-pendiri agama, dewa-dewa agama lain sebab semuanya sudah tercantum dalam apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam  Yohanes 14: 6  Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.  Rasul Petrus  menyatakan dengan jelas dan tegas dalam Kisah Para Rasul 4: 12  Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."
Memahami akan uraian di atas, maka tidak dapat disangkali bahwa peristiwa Natal adalah sebuah pemberian terbesar bagi manusia, sebab Natal berbicara tentang Allah mendunia untuk membebaskan manusia dari dosa dan maut, serta memaknai hidup orang percaya untuk berbeda dengan dunia ini dan memiliki kepastian keselamatan yang tidak dapat hilang. Apapun sambutan manusia terhadap Natal namun Natal tetap merupakan  Sebuah pemberian terbesar bagi tiap pribadi yang menyambut Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya.  Selamat Merayakan hari Natal.
...
[1]. Stephen Tong, Yesus Kristus Juruselamat dunia, Momentum: Surabaya, 2004. hlm. 67.Selain Stephen Tong, Thomas Arnold menjelaskan hal yang sama dalam The Encyclopedia of Religious quotations, hal. 95. The distinction between Christianity and all other systems of religion consists largely in this, that in these others, men are found seeking after God, while Christianity is God seeking after men (= Perbedaan antara Kekristenan dan semua sistim agama lain sebagian besar terletak di sini, yaitu bahwa dalam agama-agama lain, manusia didapati mencari Allah, sedangkan Kekristenan adalah Allah mencari manusia) 
[2]. Sejak kejatuhan manusia dalam Kejadian 3. Menunjukkan bahwa Allah yang berinisiatif mencari Adam dan Hawa, selanjutnya Allah berinisiatif memanggil Abraham, dst (Kel. 12: ), Namun penekanan di atas lebih menunjukkan bagaimana Allah berinisiatif melalui Inkarnasinya, masuk kedalam sejarah manusia serta mengalami ap

Sumber: Air Hidup
Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan Pelajaran ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

Damai Sejahtera Natal


Kehidupan yang damai sejahtera merupakan dambaan setiap orang. Masalahnya adalah, di dunia ini tidak pernah kita temukan apa yang dimaksuda Damai Sejahtera itu. Bagi dunia, damai sejahtera selalu bersifat sementara, dan kita tidak tahu apa yang bakal terjadi hari esok. Manusia hidup di tengah pengharapan yang tidak pasti. Itu sebabnya Tuhan Allah yang Pengasihi itu merencanakan suatu Jalan Keselematan bagi manusia.

Yohanes 3 :16 Merupakan suatu bukti bahwa Tuhan Allah itu mengasihi kita umat manusia, dan kasihNya itu begitu besar, sehingga Ia mengaruniakan anakNya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal bersama dengan Tuhan Yesus di Sorga.  Janji ini bukan sekadar omong kosong. tetapi suatu janji yang pasti.

Dalam suasana Natal ini, bagi kita yang sudah memperoleh keselamatan dari pengorbanan Tuhan Yesus itu perlu memperhatikan beberapa hal, supaya Damai Sejahtera yang kita miliki, bukan sekadar omongan, tetapi menjadi kenyataan.  Melalui Lukas 2 : 8-14 ini saya memberikan akronim PEACE itu sebagai berikut :
P = Proclaim
E = Evangelism
A = Authority of Jesus Christ  
C = Commitment  
E = Energized by the Holy Spirit1

P = Proclaim
Proklamasikanlah!!!  Kelahiran danm kedatangan Tuhan Yeus ke duania ini akan sia-sia bila tidak ada orang yang mengetahui, sebab tujuan kedatanganNya justrui hendak menyelamatkan manusia. Oleh sebab itu Allah mengutus Malaikat memproklamirkan kepada para gembala. Pertanyaannya adalah, mengapa kepada para Gembala? Bukankah itu hanya kumpulan kecil? Mengapa tidak langsung saja ke seluruh penjuru dunia.

Kita melihat bahwa tujuan utama Allah bukan mengutus Malaikat memproklamirkan berita ini, IA hendak melibatkan segenap umat manusia, dan ini dimulai dari para gembala itu. Nah  para gembala itu bertugas untuk melanjutkan proklamasi ini kepada orang-orang lain. Coba kita focus ke  ayat 10, kata aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa  menunjukkan bahwa, berita itu harus disebar-luaskan, bukan hanya milik satu bangsa, tetapi semua bangsa. Namun bagaimana mereka dapat mengetahui berita itu? Itu sebabnya kita perlu memproklamirkannya.

Ingatkah, kapan, siapa, dan dari mana, pertama kali anda mendengar proklamasi bahwa Yesus telah lahir ke dunia untuk meyelamatkan anda?  Momentum ini perlu kita hargai, karena hanya sekali untuk untuk selama-lamanya. Namun yang menjadi maslah adalah, kita sudah mendengar, kita sudah menerima keselamatan itu, lalu pernahkah kita proklamirkan berita ini juga pada orang lain? Kapan untuk pertama kalia kita proklamirkan? Atau masih belum sama sekali? AyoÃ??Ã?¢Ã???Ã??Ã?¦.jangan sia-siakan waktu ini.  Damai sejahtera akan dimiliki kalau proklamasi berita ini sudah di dengar.

Gembala adalah orang rendahan dan hina, buktinya mereka tidak berhak memberikan kesaksian di pengadilan. Namun kepada merka berita ini diproklamirkan. Mengapa demikian? Karena Allah juga mau memakai orang yang rendah dan hina, supaya menghancurkan kesombongan mereka yang menganggap diri pintar. ( 1 Korintus 1 :25, 2: 4-5). Itu sebabnya tidak ada alas an bagi siapa saja yang menganggap diri rendah, Alalh tetap mau memakai kita.

E = Evangelism
Berita proklamasi tidak berhenti sampai di sini, itu sebabnya perlu di dengungkan setiap ada kesempatan. Banyak orang yang sudah mendengarkan berita kelahiran Tuhan Yesus, mereka juga tahu bahwa Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Namun  hatinya masih keras dan tidak terbuka untuk percaya. Itu sebabnya, orang-orang yang sudah percaya, diberikan tugas untuk mengabarkan berita ini lebih sepesifik, supaya yang mendengar boleh percaya dan menerima keselamatan itu.

Ayat 10 menyebutkan  Ada kesukaan besar (Great Joy), kareana Juruselamat Yesus Kristus lahir ke dunia ini. Hal ini menunjukkan bahwa tidak akan ada kesukacitaan sejati, tanpa Yesus. Sukacita manusia di dunia sifatnya sementara saja, semua itu akan habis ditelan waktu. Makanay tidak heran, ada orang yang baru saja tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba menangis. Tetapi berita sukacita dari Tuhan Yesus, nilainya kekal. Walaupun keadaannya menyusahkan, namun di da lam hati masih ada suka-cita. Lihat saja rasul Paulus dan kawan-kawannya, walupun di dalam penjara mereka tetap bernyanyi memuji Tuhan ( lih Kisah 16 : 25). Mengapa demikian? Karena suka-cita yang diperoleh dari Yesus Kristus itu , tidak sanggup dirampas oleh keadaan dan lingkungan.
Kepada setiap orang yang sudah memiliki keselamatan dalam Yesus Kristus maka ia  bersukacita. Sukacita ini harus mengatasi segala problem, penderitaan . Sudahkah anda memiliki suka-cita yang demikian?
A = Authority of Jesus Christ
Berita sukacita yang kita sampaikan itu bukan berita omong kosong, tetapi berita seorang bayi yang dibungkus dalam lampin lahir di kota Daud. Bayi itu bukan bayi sembarangan, tetapi bayi yang memiliki Otoritas mengubah dunia. Bayangkan saja, Raja Herodes gemetar mendengar berita kelahiranNya.
24 Desember 1984: Gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Jalan Arief Margono, Malang, Jawa Timur di bom. Otak pembom sempat dipenjara, dan di sana ia menerima Tuhan Yesus sebagi Juruselamat pribadinya. Sekarang ia telah menjadi seorang pendeta. Jadi lihat di sini, sama seperti Rasul Paulus, Yesus memiliki otoritas penuh untuk mengubah, bahkan hati mereka. Saya yakin, peristiwa 3 orang guru Sekolah minggui yang dipenjarakan itu, di dalamnya tersirat misteri bahwa Otoritas Tuhan Yesus sedang bekerja, dan hasilnya suatu saat akan terlihat.
Oleh sebab itu, sebagai orang percaya kita mesti rela dan  berani  memproklamirkan berita suka-cita itu, sebab otoritasnya memang dari Yesus Kristus sendiri. Beritanya sangat jelas sekali, yakni ada seorang bayi yang lahir di kota Daud. Dan bayi ini adalah Yesus Kristus sang Mesias Juruselamat itu.
C = Commitment
Tuhan membutuhkan orang-orang yang setia di dalam komitmentnya. Kerajinan, kepandaian, semangat luar bias tanpa kesetiaan, akan sia-sia.  Itulah yang dimaksud dengan suam-suam kukuh. Untuk mengetahui atau mengecek, mereka yang sudah diberitakan firman Tuhan, apakah tetap menjalani dan ikut Tuhan, diperlukan orang yang setia bekerja untuk Tuhan. Kedamaian tidak akan diperoleh bila seseorang yang tadinya percaya Yesus, namun karena sedikit persoalan ia menjadi lemah iman dan tidak bersandar penuh lagi padaNya.
Hari ini kalau kita boleh mendengar berita kelahiran Tuhan Yesus, itu karena pada jaman dulu ada orang-orang yang dengan setia terus-menerus memberitakan kabar kesukaan ini. Mulai dari Stefanus yang akhirnya mati martir, dilanjutkan dengan rasul Paulus, rasul Petrus, kemudian diteruskan dengan Polykarpus yang di Smirna, yang samapi mati membela dengan penuh setia pada Yesus, hingga hari ini para hamba-hamba Tuhan yang tetap setia mengabarkanya. Jadi komitmen , bukan barang baru, tetapi harus dimiliki oleh setiap orang percaya.
E = Energized by Holy Spirit
Terus terang, Damai Sejahtera yang diperolah oleh manusia  itu  dan kemudian diberitakan/ditularkan kepada ornag lain, sekali-kali bukan karena kekuatan manusia itu. Tuhan sengaja memakai para gembala yang tidak berpengetahuan tinggi, untuk mempermalukan orang yang sok pintar dan sombong. Apakah orang-orang yang dipakai Tuhan itu adalah superman? Tidak, tetapi ada Roh kudus yang membantu, meberikan energi kekuatan dan keberanian.
Yohanes 14 :16  Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,  Janji ayat ini perlu kita pegang terus, karean Penolong itu bukan sifatnya sementara , tetapi selama-lamanya.
Dalam rangka memperingati hari Natal kali ini, permis Tanya, sudahkah anda memilki damai Sejahtera itu? Damai Sejahtera yang sejati tentunya, Damai yang tidak tergoyahkan. Jikalau belum ada PEACE itu, marilah, buka hati lebar-lebar, dengarkan berita suka-cita itu, terimalah Tuhan Yesus sebgai Juruselamat pribadi anda, serahkan seluruh hidup anda kepadanya, niscaya Damai Sejahtera itu akan kita miliki.  Damai Sejahtera yang dimaksud bukan berarti kita mendadak menjadi orang kaya bukan pula mendadak penyakit kita sembuh, tetapi walaupun keadaan belum berubah, orang yang di dalam hatinya ada Yesus, ia tetap akan Damai Sejahtera.

*) Penulis adalah alumni Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang yang saat ini melayani di gereja Injili Indonesia San Jose, California

Sumber: Air Hidup

Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan Artikel ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

December 19, 2016

Kisah Nyata: Mujizat Malam Natal

Kisah nyata ini terjadi di malam Natal pada saat perang dunia ke-satu di tahun 1914, tepatnya di front perang bagian barat di Eropa. Pada saat tersebut tentara Perancis, Inggris dan Jerman saling baku tembak satu dengan yang lain.
Di malam Natal yang dingin dan gelap begini, hampir setiap prajurit merasa sudah bosan dan muak untuk berperang, apalagi telah berbulan bulan mereka meninggalkan rumah mereka, jauh dari istri, anak maupun orang tuanya.
Pada malam Natal biasanya mereka selalu berkumpul bersama dengan seluruh anggota keluarganya masing-masing, makan bersama, bahkan menyanyi bersama di bawah pohon terang di hadapan tungku api yang hangat.
Berbeda dengan malam Natal yang sekarang ini, di mana cuaca di luar sangat dingin sekali dan saljupun turun dengan lebatnya, mereka bukannya berada di antara anggota keluarga yang mereka kasihi, melainkan berada di hadapan musuh perang mereka yang setiap saat bersedia untuk menembak mati siapa saja yang bergerak.
Tiada hadiah yang menunggu selainnya peluru dari senapan musuh, bahkan persediaan makananpun sudah berkurang jauh, sehingga hari inipun hampir seharian penuh mereka belum makan. Pakaianpun basah kuyup karena turunnya salju. Biasanya mereka berada di lingkungan suasana yang hangat dan bersih, tetapi kali ini mereka berada di dalam lubang parit, seperti layaknya seekor tikus, boro-boro bisa mandi dan berpakaian bersih, tempat di mana mereka berada sekarang inipun basah, becek penuh dengan lumpur. Mereka menggigil kedinginan. Rasanya tiada keinginan yang lebih besar pada saat ini selainnya rasa damai untuk bisa berkumpul kembali dengan orang-orang yang mereka kasihi.
Seorang tentara sedang merintih kesakitan karena barusan saja terkena tembakan, sedangkan tentara lainnya menggigil kedinginan, bahkan pimpinan mereka yang biasanya keras dan tegas entah kenapa pada malam ini kelihatannya sangat sedih sekali, terlihat air matanya turun berlinang, rupanya ia teringat akan istri dan bayinya yang baru berusia enam bulan. Kapankah perang ini akan berakhir ? Kapankah mereka akan bisa pulang kembali ke rumahnya masing-masing ? Kapankah mereka bisa memeluk lagi orang orang yang mereka kasihi ? Dan masih merupakan satu pertanyaan besar pula, apakah mereka bisa pulang dengan selamat dan berkumpul kembali dengan istri dan anak - anaknya ? Entahlah...
Tidak sepatah katapun terdengar. Suasana malam yang gelap dan dingin terasa hening dan sepi sekali, masing-masing teringat dan memikirkan keluarganya sendiri. Selama berjam-jam mereka duduk membisu seperti demikian.
Tiba-tiba dari arah depan di front Jerman, ada cahaya kecil yang timbul dan bergoyang, cahaya tersebut kelihatan semakin nyata. Rupanya ada seorang prajurit Jerman yang telah membuat pohon Natal kecil yang diangkat ke atas dari parit tempat persembunyian mereka, sehingga nampak oleh seluruh prajurit di front tersebut.
Pada saat yang bersamaan terdengar alunan lembut suara lagu Stille Nacht, heilige Nacht" (Malam Kudus), yang pada awalnya hanya sayup-sayup kedengarannya, tetapi semakin lama lagu yang dinyanyikan tersebut semakin jelas dan semakin keras terdengar, sehingga membuat para pendengarnya merinding dan merasa pilu karena teringat akan anggota keluarganya yang berada jauh dari medan perang ini.
Ternyata seorang prajurit Jerman yang bernama Sprink yang menyanyikan lagu tersebut dengan suara yang sangat indah, bersih, dan merdu. Prajurit Sprink tersebut sebelumnya ia dikirim ke medan perang adalah seorang penyanyi tenor opera yang terkenal. Rupanya suasana keheningan dan gelapnya malam Natal tersebut telah mendorong dia untuk melepaskan emosinya dengan menyanyikan lagu tersebut, walaupun ia mengetahui dengan menyanyikan lagu tersebut, prajurit musuh bisa mengetahui tempat di mana mereka berada.
Ia bukan hanya sekedar menyanyi dalam tempat persembunyiannya saja, ia berdiri tegak, tidak membungkuk lagi, bahkan ia naik ke atas sehingga dapat terlihat dengan nyata oleh semua musuh - musuhnya. Melalui nyanyian tersebut ia ingin membawakan kabar gembira sambil mengingatkan kembali makna dari Natal ini, ialah untuk berbagi rasa damai dan kasih. Untuk ini ia bersedia mengorbankan jiwanya, ia bersedia mati ditembak oleh musuhnya. Tetapi apa yang terjadi, apakah ia ditembak mati ?
Tidak! Entah kenapa seakan-akan ada mukjizat yang terjadi, sebab pada saat yang bersamaan semua prajurit yang ada di situ turut keluar dari tempat persembunyiannya masing-masing, dan mereka mulai menyanyikannya bersama. Bahkan seorang tentara Inggris musuh beratnya Jerman, turut mengiringi mereka menyanyi sambil meniup dua peniup bagpipes (alat musik Skotlandia) yang dibawanya khusus ke medan perang. Mereka menyanyikan lagu Malam Kudus ini dengan rasa pilu dan air mata yang turun berlinang.
Yang tadinya lawan sekarang menjadi kawan, sambil saling berpelukan mereka menyanyikan bersama lagu Malam Kudus dalam bahasanya masing - masing, di sinilah rasa damai dan sukacita benar - benar terjadi. Setelah itu, mereka meneruskan menyanyi bersama dengan lagu Adeste Fideles (Hai Mari Berhimpun), mereka berhimpun bersama, tidak ada lagi perbedaan pangkat, derajat, usia maupun bangsa, bahkan perasaan bermusuhanpun hilang dengan sendirinya.
Mereka berhimpun bersama dengan musuh mereka yang seyogianya harus saling tembak, membunuh satu dengan yang lain, tetapi entah kenapa dalam suasana Natal tersebut mereka ternyata bisa berkumpul dan menyembah bersama kelahiran-Nya, Sang Juru Selamat. Rupanya inilah mukjizat Natal yang benar - benar bisa membawa suasana damai di malam yang suci.
Matius 5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.


Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan seri kesaksian ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

Memahami Natal Yang Sesungguhnya


Dalam kita merayakan suatu peristiwa yang mulia, yaitu kelahiran Yesus, di mana Allah telah menjadi manusia, kadang-kadang kita diperhadapkan dengan tuduhan bahwa Natal adalah perayaan kafir. Apakah hal itu benar dan apakah kita harus meniadakan perayaan Natal dan pohon terang dan hal-hal lain berkaitan dengan Natal itu? Dalam artikel ini, pertama, saya mau menjelaskan sedikit tentang latar belakang historis perayaan Natal dan kedua, tentang makna Natal bagi kita dimasa kini.   Ada tiga sumber asalnya perayaan Natal yang kemudian dipersatukan dalam perayaan Natal yang kini umum di seluruh dunia: Pada tahun 1466, Paus Paulus Ke-2, untuk menyenangkan masyarakat Roma telah menghidupkan kembali tradisi Perayaan Saturnalia, pesta kafir itu, tetapi secara khusus untuk menghina masyarakat Yahudi yang harus lari telanjang di jalan raya di depan Kota Vatikan.
Orang-orang Yahudi itu dipaksa makan banyak sekali makanan sebelum lari sehingga mereka sangat kesakitan lalu masyarakat, termasuk Paus, mengejek mereka dan ketawa dengan gembira waktu melihat orang-orang Yahudi dihina dan jatuh kesakitan. Hal ini dilanjutkan oleh Gereja Katolik pada Abad Ke-18 sampai Abad Ke-19 di mana para Rabi Yahudi harus mengenakan pakaian seorang badut dan mereka diejek, dilempari dan disiksa. Pada tahun 1836, masyarakat Yahudi mengirim surat yang meminta Paus menghentikan praktek itu, tetapi dia menolak permintaan mereka. Pada tahun 1881, di Polandia, 12 orang Yahudi dibunuh dalam penghinaan acara Natal dan banyak sekali rumah dan toko Yahudi dibakar. Secara khusus, penghinaan terhadap masyarakat Yahudi telah berhenti di Eropa setelah Hitler membunuh enam juta orang Yahudi pada waktu Perang Dunia Ke-2.
Pohon Natal berasal dari penyembahan berhala kultus Asheira, di mana masyarakat Eropa telah mengambil pohon pinus kecil dan membawanya ke dalam rumah mereka untuk menyembahnya sebagai dewa. Mereka telah menghiasinya untuk membuat pohon mereka lebih indah. Pada waktu suku-suku itu diinjili, tradisi mereka dikristenkan pula dan dijadikan gambaran kehidupan baru dan dihiasi dengan lampu-lampu untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah pohon terang yang menyinari seluruh bumi. Pemberian hadiah seperti di perayaan Saturnalia dikristenkan karena Santo Nikolaus (270-345 M) telah punya tradisi memberi hadiah. Dia dikuduskan sebagai Santo pada Abad Ke-19 dan ini asalnya Santo Nikolaus atau Santa Claus. Lalu, hadiah-hadiah yang mau diberikan biasanya diletakkan di bawah pohon Natal lalu dibagikan pada pagi hari pada tanggal 25 Desember itu.   Walaupun Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember dan tanggal itu adalah gabungan berbagai perayaan kafir, tanggal tersebut dan perayaan Natal bisa saja kita terima sebagai tanggal perayaan di seluruh dunia untuk merayakan kedatangan Juruselamat ke dalam dunia. Pada waktu bulan Desember kita memiliki kesempatan luar biasa menjadi saksi Yesus dan untuk memberitakan Injil. Tanggalnya tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah kesempatan dan kebebasan pemberitaan Injil itu. Kita melihat dalam pelayanan Rasul Paulus di Athena, ia menggunakan prinsip yang sama.
Dalam Kisah 17:23, Paulus berkata kepada masyarakat Yunani, ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. Paulus menggunakan kata theos yang adalah kata untuk dewa dalam bahasa Yunani untuk menjelaskan bahwa Yesus adalah theos (dewa atau ilah) yang benar. Dengan demikian, Paulus membawa bangsa Yunani yang percaya kepada satu Allah, bukan ratusan dewa sehingga mereka menjadi percaya kepada Yesus. Dalam cara yang sama, kita merayakan Natal, bukan sebagai tanggal yang sesungguhnya, tetapi sebagai tanggal perayaan agar dunia mengenal kasih Allah. Bahwa Sang Juruselamat telah lahir ke dalam dunia yang gelap dengan membawa kasih dan terang Allah kepada semua manusia. Yesus adalah hadiah Allah kepada kita. Jadi, mari kita merayakannya dengan sukacita, kasih dan semangat membagikan kasih-Nya kepada semua manusia. Syalom, dan selamat Natal!

(Oleh DR. Jeff Hammond, Penatua Jemaat Abbalove Ministries)

Sumber: Air Hidup


Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan Pelajaran ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

Kemuliaan Allah Bagi Damai Sejahtera Manusia



Ayat Renungan:
Lukas 2:10-11 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.

Baca Selengkpanya: Lukas 2:1-14

Peristiwa Natal akan tenggelam dalam keheningan malam kota kecil Betlehem, seandainya malaikat Tuhan tidak datang untuk mengumandangkan berita sukacita, “Kristus Tuhan sudah lahir di kota Daud.”

Nyanyian malaikat merupakan tanda bahwa kemuliaan Allah menaungi isi dunia, direpresentasikan oleh para gembala di padang rumput. Memang dunia ini ibarat padang rumput dengan para gembala serta domba-domba mereka di malam hari. Tenang, hening dan hanyut, dan hampir tidak ada kehidupan! Ketika terang ilahi bersinar melingkupi semuanya, tidak hanya para gembala yang tersentak dari lamunannya, dunia pun menggeliat terbangun oleh berita sukacita yang datang dari tempat yang mahatinggi.

Dunia yang hanyut oleh ketiadaan pengharapan, tersentak oleh pernyataan sorgawi: “Kemuliaan bagi Allah di tempat mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Pernyataan ini membukakan harapan, bahwa bagi dunia yang hampa diberikan damai sejahtera. Damai sejahtera itu selain merupakan perwujudan kemuliaan Allah, juga merupakan penggenapan janji Allah, yaitu bahwa damai diberikan kepada umat yang memperkenankan hati-Nya. Mereka yang memperkenankan hati Allah adalah mereka yang menerima Dia, cahaya kemuliaan Allah, yang lahir di kandang hina.

Renungkan: Kemuliaan Allahlah yang mendatangkan damai sejahtera di bumi. Apakah Anda sudah menerima Sang Cahaya Kemuliaan Allah dalam hidup Anda?


Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan Renungan ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

December 17, 2016

Fatwa Haram Penggunaan Atribut Nonmuslim, MUI: Itu Hanya untuk Umat Islam



Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa haram bagi umat muslim yang mengenakan atribut yang berkaitan dengan perayaan Natal. Apabila ada umat muslim yang sukarela untuk mengenakan ornamen Natal untuk mengonsultasikannya terlebih dahulu ke pihak MUI.


"Mungkin baiknya yang bersangkutan konsul kepada MUI," kata Sekjen MUI Robi Nurhadi kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (16/12/2016).

Hal itu diungkapkan Robi usai melakukan pertemuan dengan Wakapolda Metro Jaya Brigjen Suntana di Mapolda Metro Jaya sore tadi. Hadir dalam pertemuan itu unsur TNI, Pemda DKI dan Wali Gereja DKI Jakarta.

Menurut Robi, mengenakan atribut Natal bagi umat muslim diharamkan karena sudah masuk ke dalam akidah. "Itu menyangkut keyakinan seseorang yang beragama, harus commit untuk menerapkan keyakinannya. Dalam keyakinan Islam, bahwa menggunakan atribut yang digunakan dalam agama lain itu dilihat sebagai suatu pelanggaran terhadap akidah," terang Robi.

Dalam kesempatan itu, Robi juga meluruskan soal fatwa bernomor 56 Tahun 2016 tentang penggunaan atribut satu agama oleh umat Islam yang diharamkan oleh MUI. Robi menegaskan, fatwa itu hanya untuk mengatur umat Islam.

"Pelurusan ini lah yang perlu kita tegaskan, bahwa fatwa ini hanya untuk umat Islam dan tentu saja para pihak diminta menghormati untuk tidak memaksakan hal itu kepada umat Islam," kata Robi.

"Setelah kami bermusyawarah, di antara seluruh agama dipimpin oleh Wakapolda maka kami memutuskan ada tujuh poin penting untuk sama-sama didengarkan oleh semua pihak dan tidak boleh mendahului para pihak apalagi otoritas yang punya kewenangan untuk itu," sambungnya.

Berikut 7 poin terkait fatwa MUI soal pelarangan pemakaian atribut nonmuslim bagi umat muslim tersebut:

1. Terbitnya fatwa MUI No 56 Tahun 2016 tanggal 14 Desember 2016 tentang hukum menggunakan atribut nonmuslim perlu dihormati bersama.
2. Instansi terkait untuk dapat menyosialisasikan maksud dari fatwa tersebut.
3. Memberikan pemahaman kepada para pengelola mal, hotel, usaha hiburan, tempat rekreasi, restoran dan perusahaan agar tidak memaksakan karyawan atau karyawari yang muslim untuk menggunakan atribut nonmuslim.
4. Semua pihak mencegah adanya tindakan main hakim sendiri atau sweeping, baik ormas keagamaan, ormas kedaerahan dan ormas kepemudaan. Polri diminta untuk melakukan tindakan tegas terhadap siapapun yang melakukan aksi sweeping atau tindakan main hakim sendiri.
5. Koordinasi antar instansi terkait untuk melakukan langkah antisipasi terhadap kerawanan yang akan timbul dengan melibatkan para tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda.
6. Semua pihak agar tetap mematuhi ketenruan hukum yang berlaku karena negara kita merupakan negara hukum.
7. Mari kita semua tetap menjaga kerukunan dan keharmonisan antar umat beragama dalam kebidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta beragama.

"Poin 7 ini selaras dengan Fatwa MUI Nomor 56 Tahun 2016 tersebut," tutur Robi.

Sementara Brigjen Suntana mengatakan, pertemuan tersebut juga membahas mengenai beberapa isu aoal agama dan juga terkait pengamanan perayaan Natal dan tahun baru.

"Pengamanan Natal dan Tahun Baru seperti biasa, tadi kita diskusi dengan wali gereja untuk menentukan pola pengamanan gereja. Semua gereja akan kita amankan, dan berbagai komunikasi serta keinginan dari pihak gereja terkait pelayanan dan pengamanan dari Polri, supaya saudara-saudara kita bisa melakukan perayaan Natal dan Tahun Baru dengan tenang dan aman," jelas Suntana.

Sumber: detik.news.com

Yang Terendah Untuk Yang Termulia



Ayat Renungan:
Lukas 2:20  Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

Baca Selengkapnya: Lukas 2:8-20

Mengapa Lukas perlu menuliskan kejadian yang tercatat dalam perikop ini? Jawabannya terletak pada kata kunci di daerah itu (1). Kelahiran Yesus terjadi di tempat yang terpencil dan jauh dari keramaian orang. Untuk lebih memperkuat fakta itu dan meningkatkan kredibilitasnya (nama baik), maka berita itu perlu diteruskan kepada orang-orang yang berada dekat daerah itu dan masih "terjaga" secara penuh (tidak tidur atau baru bangun dari tidur).

Orang-orang yang memenuhi kriteria tersebut adalah para gembala, yang ketika itu sedang menjaga kawanan ternak di daerah itu. Mereka yang merupakan sekelompok orang yang dianggap paling rendah dalam tatanan sosial pada waktu itu telah dipilih Allah untuk menjadi saksi atas peristiwa terbesar dalam sejarah manusia. Jadi, dengan demikian siapa pun kita, Allah dapat memakai-Nya untuk maksud mulia-Nya.

Respons yang lebih baik. Lukas menggambarkan kontradiksi yang indah antara respons kebanyakan orang dan Maria terhadap berita Injil. Lukas dengan indah menggunakan kata untuk mengkontraskan hal tersebut. Orang banyak memberikan respons yang spontan dan terheran-heran, sedangkan Maria merenungkannya. Banyak di antara kita sering mengungkapkan secara emosional dan spontan dalam meresponi suatu berita kesukaan. Namun biasanya ungkapan emosional itu akan cepat sirna karena tidak diikuti dengan perenungan. Keadaan ini akan mengurangi minat kita memahami karya besar Allah. Sudah semestinyalah minat tersebut berakar seperti yang diperlihatkan oleh Maria yaitu pengkontemplasian (perenungan) atas apa yang sudah Allah lakukan dan apa artinya bagi manusia.

Renungkan: Mengimani apa yang sudah Allah lakukan dalam kehidupan umat manusia secara umum dan dalam kehidupan kita secara khusus tidak dapat diimani hanya dengan mengutamakan perasaan. Menghayati dan memahami karya Allah yang Maha Besar melibatkan seluruh keberadaan kita: pikiran, pengetahuan, perbuatan, dan perkataan. Hidup yang mulia bukan karena kemampuan kita, tetapi karya Allah.

Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan Renungan ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

Menjadi Pemberita Karena Natal


Ayat Renungan:
Lukas 2:9 - 11 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.


Baca Selengkapnya: Lukas 2:8-20

Menjadi pemberita karena Natal. Natal perdana Allah yang low-budget dan tidak glamor ini pun terus berlanjut. Kembali Allah melakukan sesuatu yang mengejutkan dan ironis. Berita tentang telah dipenuhinya janji akbar PL akan kedatangan sang Mesias, yang sebenarnya adalah sukacita nasional Israel (ayat  Luk 2:10-11), disampaikan kepada para gembala. Bahkan, kemuliaan Allah pun meliputi mereka pada saat itu (ayat  Luk 2:9)! Bagi masyarakat Yahudi waktu itu, menjadi gembala upahan (orang yang menggembalakan ternak hewan milik orang lain) sebenarnya adalah salah satu pekerjaan terendah. Tanda yang menjadi pembukti kebenaran berita itu pun unik karena bersifat sangat biasa; bukan suatu mukjizat, bukan pula tanda kemegahan dan kebesaran, tetapi sebuah palungan (ayat  Luk 2:12,16). Barang inilah yang dipakai Allah untuk menjadi bukti bagi para gembala akan kebenaran dari berita yang disampaikan sang malaikat sebelumnya.

Para gembala upahan ini tidak hanya mendapatkan hak istimewa untuk menjadi saksi kelahiran Tuhan Yesus, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan teladan yang indah: pertama, antusiasme mereka dalam memberikan respons terhadap berita para malaikat (ayat  Luk 2:16). Kedua, mereka menjadi saksi-saksi yang efektif akan kelahiran Kristus (ayat  Luk 2:17). Ketiga, mereka memuji serta memuliakan Allah atas semuanya (ayat  Luk 2:20).

Apa yang dilakukan oleh para gembala upahan (baca= rendahan) ini paralel dengan apa yang dilakukan oleh para malaikat. Mereka pun memuliakan Allah dan bersaksi tentang damai sejahtera yang terjadi di antara umat Tuhan (ayat  Luk 2:14), setelah sebelumnya, salah satu dari malaikat tersebut menjadi pemberita kepada para gembala (ayat  Luk 2:9). Perbedaan status bukanlah hambatan bagi kita untuk merayakan kelahiran Kristus.

Renungkan: Semangat Natal sejati adalah semangat yang berupaya untuk mengangkat harkat mereka yang secara sosio-ekonomi berada "di bawah," dan membuat tiap Kristen tidak bisa tidak memuji dan memuliakan Tuhan serta bersaksi kepada tiap orang di sekitarnya tentang kabar baik keselamatan dalam Kristus.


Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan Renungan ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

December 16, 2016

Seruan Doa ! Umat Kristen Dunia Dukung dan Doakan Ahok!


Pendeta Franklin Graham menyerukan kepada umat Kristen diseluruh dunia untuk mendukung dalam doa, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang saat ini mengalami masalah hukum atas tuduhan dugaan penistaan agama yang dilakukannya beberapa bulan lalu.

Putra dari penginjil legendaris dunia Billy Graham ini menyerukan hal itu di akun resmi facebook-nya, pada Rabu (15/12/2016) kemarin. “Kita perlu berdoa untuk Gubernur Jakarta (berkeyakinan) Kristen, Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama yang saat ini diadili karena dianggap melakukan penghujatan oleh umat Muslim, dan tentu saja (tuduhan itu) sangat konyol,” katanya yang sampai hari ini postingan tersebut telah di-likes 36 ribu kali dengan tiga ribu komentar dan 16 ribu share.

Franklin menambahkan bahwa demonstrasi yang dilakukan untuk memprotes Ahok dengan menginginkan untuk menggantungnya adalah sebuah tindak diskriminasi. “Mereka menolaknya karena dia seorang Kristen. Kelompok Muslim garis keras telah mengerahkan demonstrasi terhadapnya dan bahkan telah menyerukan untuk menggantungnya. Ini adalah jenis penganiayaan yang terjadi di seluruh dunia. Berdoalah untuk dia dan keluarganya.” Tutupnya.

Selain itu juga penginjil berusia 64 tahun ini akan membawa kasus tersebut dalam payung The Billy Graham Evangelistic Assosiation dalam World Summit in Defense of Persecuted Christians di Washington DC pada Mei 2017 nanti, juga sebagai bahan edukasi dan informasi kepada para politisi di Washington dan masyarakat Amerika secara umum terhadap masalah penganiayaan terhadap umat Kristen yang saat ini tengah terjadi diseluruh belahan dunia.




Sumber : https://www.facebook.com/FranklinGraham

Allah melawat umat-Nya


Ayat Renungan:
Lukas 1:68  "Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya,


Baca Selengkapnya: Lukas 1:67-80

Pernahkah kita berpikir secara serius bahwa Allah yang Mahatinggi, Mahakudus, Mahamulia itu melawat umat-Nya? Jika kita melihat keberadaan kita di hadapan Allah, rasanya mustahil mengharapkan Allah melawat kita. Tetapi, dalam nyanyian Zakharia ini kita melihat paling sedikit dua hal penting tentang alasan mengapa Allah melawat umat-Nya.

Pertama, lawatan Allah menyelamatkan umat-Nya memang merupakan rencana Allah sejak awal oleh karena kesetiaan-Nya terhadap perjanjian-Nya dengan Abraham, nenek moyang Israel (ayat  Luk 1:68-75). Kedua, sekarang lawatan itu berkembang luas, tidak lagi menjadi milik satu bangsa, tetapi sudah melampaui batasan bangsa dan berkat-berkat jasmaniah, karena yang dijanjikan-Nya adalah pengampunan dosa, kelepasan dari naungan maut dan anugerah untuk menikmati damai sejahtera-Nya (ayat  Luk 1:77-79).

Supaya lawatan yang sekarang itu tercapai, Yohanes dibangkitkan untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan yang akan datang melawat (ayat  Luk 1:76). Yohanes akan disebut sebagai nabi Allah yang Mahatinggi karena pemberitaan-pemberitaan pertobatannya yang menyadarkan umat akan dosa-dosa mereka dan mengarahkan kepada kebutuhan pengampunan dosa, supaya mereka dilepaskan dari ikatan kegelapan dan dituntun kepada kehidupan yang berdamai dengan Allah. Jadi lawatan Allah akan disambut dengan pertobatan sejati, yang akhirnya dilanjutkan dengan ibadah sejati.

Betapa indahnya, jika kita menjadi seperti yang Yohanes maksudkan dalam pemberitaan-pemberitannya. Kita tidak hanya akan menjadi pendahulu dan penyiap jalan bagi Tuhan untuk melawat umat manusia, tetapi kita menjadi alat Allah untuk mewartakan Injil.

Renungkan: Hidup yang berguna adalah bila kita boleh dipakai Allah sebagai tim pendahulunya sebelum lawatan Allah itu tiba. Allah memakai orang-orang yang menyiapkan sesamanya agar siap menyambut lawatan Allah.


Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan Renungan ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

December 15, 2016

Allah Menggenapi Rencana-Nya



Ayat Renungan:
Lukas 1:57-58  Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan iapun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.


Baca Selengkapnya: Lukas 1:57-66

"Apalah arti sebuah nama," begitu tulis William Shakespeare, seorang pujangga besar Inggris. Tetapi bagi bangsa Israel kuno, nama bukanlah sebutan yang tidak berarti. Itu sebabnya bayi yang lahir biasanya diberi nama menurut nama ayahnya atau leluhurnya.

Begitu pula yang terjadi pada bayi yang dilahirkan Elisabet. Sesuai kebiasaan, bayi itu akan diberi nama seperti nama ayahnya yaitu Zakharia. Tetapi Elisabet menolak karena ingin memberi nama Yohanes (60). Orang banyak menentang karena tidak sesuai dengan tradisi (61). Lalu mereka menanyai Zakharia. Ia juga memberikan jawaban yang sama seperti yang telah disebutkan istrinya. Itulah nama yang diberikan malaikat. Zakharia tidak mengikuti keinginan orang banyak atau tradisi yang ada (62-63). Kepatuhannya membuat hukuman bisunya berakhir (64). Maka bagi orang banyak kelahiran Yohanes bukan sekadar pernyataan rahmat Allah kepada Zakharia dan Elisabet (58), tetapi juga bahwa Allah menyertai anak itu (66).

Bagi Zakharia, berakhirnya kebisuan menjadi pelajaran penting untuk percaya bahwa Allah pasti menepati janji-Nya. Ketidakpercayaannya bukan penghalang bagi Allah untuk menggenapi rencana-Nya dalam hidup manusia. Maka dalam kebisuannya, Zakharia belajar taat.

Dari kisah Zakharia kita melihat bahwa tidak mudah bagi manusia untuk percaya pada perkataan Allah, meskipun malaikat Allah sendiri yang menyampaikannya. Padahal Allah tidak berkenan atas ketidakpercayaan manusia, manusia pun bisa dihukum karenanya.

Maka dengan mengingat bahwa Allah tidak pernah melupakan janji-Nya, marilah kita belajar mempercayai janji Allah. Jangan kira bahwa keterbatasan/kelemahan kita merupakan penghalang bagi Allah untuk melaksanakan karya-Nya. Dia berkuasa dan sanggup melakukan segala sesuatu sesuai dengan segala yang sudah dirancangkan-Nya.

Ingatlah:jangan pernah meragukan janji Allah!


Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan Renungan ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

Ketika tidak mengerti, Tetaplah Percaya !


Ayat Renungan:
Lukas 1:18 - 19  Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: "Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya." Jawab malaikat itu kepadanya: "Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu.

Baca Selengkapnya:  Lukas 1:18-25

Ketika ragu, nyatakan imanmu dengan mempercayakan diri kepada Tuhan. Sering kita tidak dapat mengerti bagaimana mungkin janji Tuhan dapat digenapi dalam hidup kita, terutama bila kita melihat situasi yang sama sekali tidak berpengharapan. Rasa pesimis ini justru memacu kita untuk menolak mempercayai kebenaran. Seperti halnya Zakharia, seorang imam yang menolak untuk percaya pada kebenaran Allah. Akibatnya, ia dihukum menjadi bisu!

Mengapa bisu? Tentu banyak alasan bisa diberikan. Tetapi satu alasan yang jelas, Zakharia sebagai imam, dipakai oleh Tuhan untuk membawakan doa-doa umat kepada-Nya. Mulut yang biasa dipakai untuk melantunkan doa, kali ini dibungkamkan oleh ketidakpercayaannya kepada pernyataan hamba Tuhan, malaikat Gabriel. Bisu adalah hukuman atas ketidakpercayaan Zakharia. Bisu juga adalah alat untuk mencegah Zakharia bertindak munafik, dengan tetap melantunkan doa permohonan ampun umat kepada Allah, mencegahnya kepada dosa yang lebih berat! Akan tetapi, respons Zakharia berbeda dengan respons Elisabet.

Ketika mengetahui dirinya mengandung, ia memuji Tuhan. Ia langsung mengenali perbuatan tangan Tuhan yang baik telah berlaku atasnya. Perhatikan ucapan Elisabet, “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.” Ucapan ini mengandung kesaksian atas apa yang Tuhan sudah lakukan pada dirinya. Tuhan dipermuliakan melalui kesaksian atas apa yang terjadi dalam hidupnya.

Zakharia dicegah dari kemungkinan “memalukan” Tuhan, sementara Elisabet diberi kebebasan untuk “memuliakan” Tuhan. Zakharia mungkin tidak perlu “ditutup” mulutnya oleh malaikat, andaikata dalam keraguan ia bersikap seperti nantinya, Maria (bdk.  Luk 1:38), “Jadilah kehendak-Mu atasku.”

Renungkan: Waktu Anda menghadapi kemustahilan dalam hidup Anda, apakah menurut Anda hal itu mustahil juga bagi Tuhan?

Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan Renungan ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

Anda diberkati dengan website ini ?
Bantu pengembangan website
 lewat Donasi :





Transfer Bank klik:


Berlangganan Melalui Email

Masukan alamat email anda:

Pastikan emailAktif

Data Kunjungan

Blog Archive