Belajar dan bertumbuh bersama Yesus Kristus yang adalah Guru dan Tuhan. Muridkan diri pribadi lebih dahulu sebelum memuridkan orang lain

October 05, 2016

Apakah Allah Ada?

Seorang atheis berkata kepada seorang Kristen, “Pernahkah Anda melihat Allah? Pernahkah Anda menyentuh-Nya? Pernahkah Anda mencium bau-Nya? Bagaimana Anda dapat berkata bahwa Anda memiliki Allah?”
Setelah termenung sejenak, orang Kristen itu menjawab, “Pernahkah Anda melihat otak Anda? Pernahkah Anda menyentuh otak Anda? Pernahkah Anda menciumnya? Bagaimana Anda berani berkata bahwa Anda memiliki otak?”
Mungkin tidak banyak orang yang ateis, yaitu mereka yang serius memikirkan tentang hidup dan berkesimpulan bahwa Allah tidak ada. Ada lebih banyak orang agnostik, mereka yang berpikir dan berkata, “Saya tidak tahu!” Namun kebanyakan orang, meskipun hanya dalam pikiran, mengakui bahwa Allah itu ada.
Ibrani 11:6 mengatakan kepada kita bahwa menyadari keberadaan Allah adalah langkah pertama untuk mengenal Allah secara pribadi. Setelah itu, kita harus mencari Dia dan percaya bahwa Allah tidak akan membiarkan usaha kita mencari-Nya menjadi sia-sia.
Akhirnya, pencarian kita akan Allah menuntun kita untuk mempertimbangkan tentang Yesus. Dia menyatakan, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10:30). Dia juga mengatakan bahwa barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan mengetahui bahwa Yesus mengatakan kebenaran (Yoh. 7:17).
Anda atau seseorang yang Anda kenal mungkin berada pada tahap pertama: menyadari bahwa Allah ada. Ingatlah, Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh rindu untuk mengenal Dia. Dan suatu hubungan pribadi dengan Allah hanya dapat dijalin melalui iman di dalam Yesus Kristus. —DJD
Aku mencari sepenuh hati untuk mengetahui
Apakah Allah sungguh-sungguh ada;
Dengan penuh kasih, Dia menyatakan diri-Nya—
Anugerah, kasih, dan pemeliharaan-Nya. —Cetas
Jika Anda mencari Allah, Anda akan menemukan-Nya di dalam Yesus.

WAWASAN
Bagian dari Alkitab tersebut di atas membahas tentang iman sejati, dan itu adalah masalah yang teramat penting. Kita sering mendengar orang berbicara tentang iman, tetapi kita tidak dapat memahami dengan jelas apa yang menjadi pijakan imannya. Kita tidak dapat hanya memiliki “iman kepada iman” (faith in faith)—suatu pandangan positif yang percaya saja bahwa segala sesuatu akan berhasil, bagaimanapun caranya. Haruslah ada suatu objek yang menjadi pijakan iman kita, dan Ibrani 11 mendorong kita untuk memahami bahwa iman menjadi bermakna hanya ketika kita beriman kepada Allah yang hidup dan sejati.
 Sumber: Bible.com
Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan tulisan ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

0 comments:

Post a Comment

Translate

Join with us

Berlangganan Melalui Email

Masukan alamat email anda:

Delivered by FeedBurner

Support Community

Powered by Blogger.

Lihat Daftar Lengkap Artikel :