Belajar dan bertumbuh bersama Yesus Kristus yang adalah Guru dan Tuhan. Muridkan diri pribadi lebih dahulu sebelum memuridkan orang lain

October 31, 2016

BERKAT-NYA BAGI ORANG RENDAH HATI

Bacaan Alkitab hari ini
Lukas 18:9-14

Bacaan Alkitab satu tahun
1 Korintus 6; 1 Raja-Raja 3-5

Ayat Hafalan
Lukas 18:13, Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri  dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.

Renungan Inspirasi
Sebuah cerita menarik dari pengalaman seorang hamba Tuhan D.L. Moody. Suatu saat dia melakukan sebuah pelayanan di sebuah penjara dengan julukan “Grave Yard” atau Pekuburan. Setelah dia selesai berkhotbah, ia sengaja berbincang-bincang dengan beberapa orang di dalam sel. Dia menanyakan pertanyaan yang sama kepada tiap tahanan, “Mengapa Anda ditahan?” Berulang kali menerima jawaban yang hampir sama: “Saya tidak seharusnya berada di sini. Saya dijebak. Saya difitnah. Saya tidak diadili secara adil.” Tak satu pun tahanan mau mengakui bahwa dirinya bersalah. Hingga akhirnya Moody bertemu dengan pria yang sedang duduk menangis tersedu-sedu. Ketika Moody menanyakan pertanyaan yang sama. Pria tersebut menjawab, “Saya tak mampu menanggung dosa saya yang begitu besar.” Moody merasa ia melihat perbedaan dari orang ini. Pria ini merendahkan hati merasa dirinya tidak layak dan membutuhkan kasih Tuhan untuk menghapus dosanya. Pada akhirnya Moody bersaksi mengenai kasih Tuhan bagi pria itu.

Cerita pengalaman Moody seperti dua sikap berlawanan dalam perumpamaan Yesus antara orang Farisi dan pemungut cukai. Tuhan menyatakan Ia lebih berkenan kepada pemungut cukai yang menunjukkan sikap rendah hati di hadapan-Nya. Dalam kehidupan ini segala sesuatu yang kita miliki semua berasal dari Tuhan, termasuk keselamatan yang telah kita terima hari ini. Sehingga tidak ada alasan lagi merasa lebih dari yang lain, apalagi hingga melupakan Tuhan. Mari belajarlah rendah hati sama seperti Tuhan Yesus. Percayalah ketika Anda hidup rendah hati selain menjadi kesaksian bagi orang sekitar, Tuhan berjanji Ia akan mencurahkan segala kebaikan-Nya dengan berlimpah bagi Anda (ay. 14).

Refleksi Diri
1. Apa makna dari perumpamaan Yesus dalam renungan ini (ay. 9-14)?
2. Apa dampak ketika Anda belajar hidup dalam kerendahan hati?

Pokok Doa
Tuhan terima kasih telah mengingatkanku agar senantiasa belajar hidup rendah hati dalam kehidupan sehari-hari. Aku menyadari semua hanyalah anugerah-Mu.

Kata - Kata Bijak
Percayalah kasih sayang Tuhan selalu turun bagi orang yang rendah hati.

Yang Harus Dilakukan
Belajarlah untuk mengakui bahwa segala kebaikan yang diterima berasal dari Tuhan.

Sumber: NDCMinistry


Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan seri pelajaran ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

10 ALASAN UNTUK MEMPERCAYAI KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN

10 ALASAN UNTUK MEMPERCAYAI KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN

1. Ketidakadilan dalam Kehidupan
2. Keindahan dan Keseimbangan
3. Pengalaman-Pengalaman Menjelang Ajal
4. Suatu Tempat di Dalam Hati
5. Kepercayaan yang Universal
6. Allah yang Kekal
7. Nubuat-Nubuat Perjanjian Lama
8. Perkataan-Perkataan Kristus
9. Kebangkitan Kristus
10. Akibat-Akibat Praktis


1. KETIDAKADILAN DALAM KEHIDUPAN

Kita akan sulit percaya bahwa kehidupan ini benar-benar baik jika di balik kuburan tidak ada apa-apa lagi sebagai kompensasi bagi masalah-masalah ketidakadilan. Sementara sebagian orang kelihatannya ditakdirkan untuk kebahagiaan, yang lainnya dilahirkan di dalam keadaan yang mengerikan. Jika kita yakin tidak ada suatu apapun yang dapat menyeimbangkan ketidak-setaraan pembagian penderitaan, maka banyak orang punya alasan untuk mengutuk hari kelahiran mereka karena kehidupan sengsara yang mereka terima. ( Ayu 3:1-3) Kita bisa menyetujui Raja Salomo, ketika pada suatu masa yang kelam dalam kehidupannya, berkata, "Lagi aku melihat segala penindasan yang terjadi di bawah matahari, dan lihatlah, air mata orang-orang yang ditindas dan tak ada yang menghibur mereka, karena di fihak orang-orang yang menindas ada kekuasaan. Oleh sebab itu aku menganggap orang-orang mati, yang sudah lama meninggal, lebih bahagia dari pada orang-orang hidup, yang sekarang masih hidup. Tetapi yang lebih bahagia dari pada kedua-duanya itu kuanggap orang yang belum ada, yang belum melihat perbuatan jahat, yang terjadi di bawah matahari," ( Pen 4:1-3).

2. KEINDAHAN DAN KESEIMBANGAN

Ada banyak hal dalam kehidupan ini yang kelihatannya tidak sesuai dengan masalah-masalah ketidakadilan dan penderitaan. Untuk segala sesuatu yang menyakitkan dan tidak adil, ada keindahan dan keseimbangan. Untuk saat-saat penuh ketakutan dan kekerasan, ada saat-saat penuh keharmonisan dan kedamaian. Sementara tubuh-tubuh yang dimakan usia menyerah pada rasa sakit dan kelemahan, anak-anak dan binatang-binatang muda dengan gembira bermain tanpa beban. Kesenian manusia, dalam segala keagungannya, menyaingi burung-burung yang beterbangan dan menyanyikan nyanyian pagi. Setiap saat matahari tenggelam dan terbit memberikan suatu jawaban bagi kebutuhan alam untuk istirahat dan pemulihan. Malam-malam gelap dan musim dingin yang beku datang dengan kesadaran bahwa "semua ini juga akan berlalu." Jika tidak ada apapun di balik kuburan, pola alam yang indah ini sama sekali tidak lengkap.

3. PENGALAMAN-PENGALAMAN MENJELANG AJAL

Bukti klinis tentang kehidupan setelah kematian bersifat subyektif dan dapat dipertanyakan. Seringkali kita sulit menilai arti dari "pengalaman-pengalaman di luar tubuh," misalnya, bertemu dengan sinar terang, terowongan panjang, atau malaikat penuntun. Juga sulit untuk mengetahui bagaimana harus menanggapi mereka yang berbicara tentang penglihatan-penglihatan tentang surga atau neraka ketika mereka menjelang ajal. Apa yang kita ketahui adalah bahwa ada cukup banyak pengalaman seperti ini untuk menciptakan suatu perpustakaan yang lumayan besar untuk memuat topik ini. Secara keseluruhan, kumpulan dari bukti-bukti ini menunjukkan bahwa ketika mendekati ajal, banyak orang yang merasakan mereka bukan sedang menuju kepada akhir dari keberadaan mereka melainkan kepada awal dari suatu perjalanan yang lain.

4. SUATU TEMPAT DI DALAM HATI

Hati manusia merindukan lebih dari apa yang dapat ditawarkan oleh kehidupan ini. Setiap kita mengalami apa yang disebut oleh Raja Salomo sebagai "kekekalan di dalam hati (kita)," ( Pen 3:11). Sekalipun sulit memahami maksud Salomo, jelas bahwa ia sedang menunjuk pada kerinduan yang tak terhindarkan pada sesuatu yang tidak dapat dipenuhi oleh dunia ini. Hal itu adalah suatu kekosongan jiwa yang juga tidak dapat dihindari oleh Salomo. Untuk sesaat, ia berusaha mengisi kekosongan batin tersebut dengan pekerjaan, alkohol, dan tawa. Ia mencoba untuk memuaskan rasa rindu itu dengan filsafat, musik, dan hubungan seksual. Tetapi kekecewaannya kian bertambah. Hanya ketika ia kembali pada kepercayaan adanya penghakiman akhir dan kehidupan sesudah kematian, dia dapat menemukan sesuatu yang cukup besar untuk memuaskan rasa rindunya pada makna kehidupan ( Pen 12:14).

5. KEPERCAYAAN YANG UNIVERSAL

Sementara sebagian orang percaya pada ketidak-mungkinan mengetahui adanya kehidupan sesudah kematian, kepercayaan kepada kekekalan adalah suatu fenomena yang universal. Dari piramida-piramida Mesir sampai munculnya pemikiran Gerakan Zaman Baru, orang dari segala zaman dan tempat telah percaya bahwa jiwa manusia tetap hidup setelah kematian. Jika tidak ada kesadaran atau tawa atau penyesalan di balik kubur, maka kehidupan telah membohongi hampir setiap orang dari Firaun dari Mesir sampai Yesus dari Nazaret.

6. ALLAH YANG KEKAL

Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah sumber kekekalan. Sifat-sifat-Nya adalah abadi. Alkitab yang sama memberitahu kita bahwa Allah menciptakan kita menurut citra-Nya, dan bahwa rencana-Nya adalah untuk membawa anak-anak-Nya untuk masuk ke dalam rumah-Nya yang kekal. Kitab Suci ini juga mengajarkan bahwa kematian terjadi dalam kehidupan manusia karena nenek-moyang kita, yakni Adam dan Hawa, telah melanggar larangan Allah. ( Kej 3:1-19) Implikasinya adalah jika Allah membiarkan umat manusia hidup selamanya dalam kondisi memberontak kepada Allah, kita akan memiliki kesempatan yang tak habis-habisnya untuk mengembangkan diri menjadi ciptaan yang angkuh dan egois. Tetapi sebaliknya, Allah mulai menyingkapkan suatu rencana yang pada akhirnya akan menghasilkan pulangnya orang-orang ke rumah Allah yang kekal, yakni orang-orang yang memilih hidup damai dengan Allah. ( Maz 90:1; Yoh 14:1-3)

7. NUBUAT-NUBUAT PERJANJIAN LAMA

Sebagian orang berargumentasi bahwa kekekalan adalah suatu pemikiran Perjanjian Baru. Tetapi Daniel, seorang nabi Perjanjian Lama, telah berbicara tentang suatu hari di mana mereka yang mati akan dibangkitkan, sebagian untuk mendapat hidup kekal, dan sebagian lagi untuk mendapat kehinaan kekal. ( Dan 12:1-3) Seorang penulis Mazmur juga berbicara tentang kehidupan setelah kematian. Dalam  Maz 73, seorang bernama Asaf menggambarkan bagaimana ia hampir kehilangan imannya kepada Allah ketika ia memikirkan orang fasik yang mengalami kemujuran sementara orang benar menderita. Tetapi kemudian ia berkata bahwa ia masuk ke dalam tempat kudus Allah. Dari perspektif ibadah, ia tiba-tiba melihat orang fasik berdiri pada tempat yang licin dari kefanaan mereka. Dengan pemahaman yang baru, ia mengakui, "Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya,". ( Maz 73:24-26)

8. PERKATAAN-PERKATAAN KRISTUS

Sedikit orang yang akan menuduh Yesus sebagai orang jahat atau seorang guru palsu. Bahkan orang-orang atheis dan orang-orang beragama non-Kristen pun biasanya menyebut Yesus dengan hormat dan kagum. Tetapi Yesus tidak berpura-pura atau menyembunyikan kenyataan adanya kelanjutan hidup setelah kematian. Ia berkata, "Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; tetapi takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka,". ( Mat 10:28) Yesus menjanjikan Firdaus kepada penyamun yang bertobat yang hampir mati di sisi-Nya. Tetapi Ia juga menggunakan Lembah Hinom, suatu tempat pembuangan sampah yang menjijikkan di luar Yerusalem, sebagai suatu simbol tentang apa yang menanti mereka yang tidak mempedulikan penghakiman Allah. Menurut Yesus, menghadapi kenyataan kehidupan setelah kematian adalah hal yang paling penting dalam hidup. Misalnya, Ia berkata, jika sebelah mata menghalangi Anda dari Allah, Anda memiliki alasan untuk membuang mata tersebut. "… lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka,". ( Mar 9:47)

9. KEBANGKITAN KRISTUS

Tidak ada bukti yang lebih besar tentang adanya kehidupan setelah kematian dari pada kebangkitan Yesus Kristus. Perjanjian Lama menubuatkan seorang Mesias yang akan mengalahkan dosa dan yang mati bagi umat-Nya. ( Yes 53; Dan 9:26) Para pengikut Yesus bersaksi bahwa itulah yang Dia lakukan. Ia dengan rela mati di tangan orang-orang yang menyalibkan-Nya, dikuburkan dalam sebuah kuburan pinjaman, dan 3 hari kemudian kuburan tersebut menjadi kosong. Para saksi mengatakan bahwa mereka tidak hanya telah melihat kubur yang kosong tetapi juga Kristus yang bangkit yang menampakkan diri kepada ratusan orang selama 40 hari sebelum Dia naik ke surga ( Kis 1:1-11; 1Ko 15:1-8).

10. AKIBAT-AKIBAT PRAKTIS

Keyakinan adanya kehidupan setelah kematian merupakan suatu sumber rasa aman, optimisme, dan pemulihan rohani bagi seseorang. ( 1Yo 3:2) Tidak ada suatupun yang menawarkan lebih banyak kekuatan dan dorongan dari pada keyakinan bahwa ada suatu kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang menggunakan masa sekarang untuk mempersiapkan hidup dalam kekekalan. Kepercayaan pada kesempatan-kesempatan yang tak terbatas dalam kekekalan telah memampukan banyak orang untuk mengorbankan nyawa mereka bagi kepentingan orang-orang yang dikasihi. Karena keyakinan-Nya pada kehidupan setelah kematian, maka Yesus mampu berkata, "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?" ( Mat 16:26) Kebenaran ini pula yang mendorong martir Kristen, Jim Elliot, yang dibunuh oleh orang-orang Indian Auca pada tahun 1956, untuk mengatakan, "Dia, yang memberikan apa yang tidak dapat dijaganya untuk memperoleh apa yang tidak dapat diambil darinya, bukanlah orang yang bodoh."

ANDA TIDAK SENDIRIAN jika Anda secara jujur merasakan bahwa Anda belum diyakinkan tentang kehidupan setelah kematian. Tetapi ingatlah bahwa Yesus berjanji untuk memberikan pertolongan Ilahi kepada mereka yang ingin mengenal kebenaran dan yang mau menaklukkan diri kepadanya. Ia berkata, "Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri,". ( Yoh 7:17)

Bila Anda yakin pada bukti adanya kehidupan setelah kematian, ingatlah Alkitab berkata bahwa Kristus mati untuk melunasi hutang-hutang dosa kita, dan bahwa semua orang yang percaya kepada-Nya akan menerima karunia pengampunan dan kehidupan kekal. Keselamatan yang ditawarkan Kristus bukanlah upah untuk usaha kita, tetapi suatu anugerah bagi mereka yang, melalui bukti-bukti tersebut, percaya kepada-Nya.


© 2000-2004 RBC Ministries Asia, Ltd.


Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan seri pelajaran ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

Rahasia Sumber Berkat Kekayaan Ekonomi di dalam Tuhan

Hari hari ini, saya sedang membaca buku dengan berjudul 7 Keajaiban Rezeki, saya awalnya tidak berencana untuk membeli buku ini. Tetapi dengan cara-Nya yang unik, sehingga saya mendapatkan buku ini.
Jadi beberapa minggu yang lalu, atau beberapa bulan yang lalu, saya mendapatkan buku ini dari seseorang di dalam group komunitas saya, dan diberikan secara cuma cuma, dan siapa cepat, dia dapat. Ya, pada awktu itu saya melihat status FB tersebut, lantas, dengan sigap, ya saya mau.
Setelah saya lihat, ternyata ini selain buku motivasi, ternyata ada langkah langkah praktis. Dan tentunya tidak asing lagi dengan penulisnya Ippho ‘Right’ Santosa.
Satu ilham yang menarik, yaitu tentang sedekah. Ya saya mengerti hal ini, terlebih berbahagia memberi daripada menerima. Betul? Terlebih berbahagia meletakkan tangan di atas dari pada di bawah. Di bahas juga the power of ‘sedekah’. Adanya hukum tabur tuai, apa yang kita tabur, pasti kita akan menuainya.
Nah, hari ini saya juga mendapatkan topik yang menarik untuk di baca. Kalau di dalam orang Percaya, bearti persembahan Diakonia, persembahan untuk anak yatim piatu, panti jompo, orang cacat dan orang orang yang membutuhkan.
Baca lebih lanjut di bawah ini
Hukum Ekonomi manapun adalah bersumber dari hukum Tuhan yaitu Tabur dan Tuai yang telah dijalankan oleh para petani sejak jaman dulu. Bahwa untuk menuai keuntungan atau suatu hasil apapun harus ada yang ditabur pada awalnya. Petani percaya pada tanah ladang yang memberi jaminan akan memberikan hasilnya bagi yang berani menabur di situ.
2 Korintus 9:6.
Seharusnya kita lebih percaya lagi pada janji Tuhan yang pasti akan memberkati kita, karena Tuhan telah berjanji bahwa kita dipanggil untuk diberkati oleh-Nya.
Yesaya 45:3.
Untuk mendapatkan janji berkat tersebut pasti Tuhan sudah menyediakan sarana dan cara untuk mencapainya. Harta yang “terpendam” dan kekayaan yang “tersembunyi” berarti ada kunci rahasia untuk menerima janji Tuhan tersebut bagi kita yang percaya akan Dia. Sesungguhnya kunci kesuksesan ekonomi Tuhan berada pada persembahan karena apa yang kita tabur pada ladang Tuhan pasti akan tumbuh dengan subur demikian juga dengan uang yang kita tabur.
Amsal 3:9-10.
Jadi setiap sen uang yang kita persembahkan kepada Tuhan sebenarnya adalah benih yang kita tabur pada ladang Tuhan yang pada akhirnya kita pula yang menuai hasilnya. Oleh karena itu banyaknya jenis persembahan yang Tuhan perintahkan bukanlah untuk membebani umatnya melainkan untuk membangun ekonomi umatnya.
Pada umumnya ada “delapan jenis” dasar persembahan yang diterapkan dalam gereja-gereja untuk membangun ekonomi umatnya. Karena janji dan hukum Tuhan adalah apa yang kita tabur/tanam itu yang kita tuai/petik. Untuk selanjutnya kita akan membahas apa yang akan kita tuai bila kita menabur pada salah satu kantong/peti persembahan yang merupakan ladang ekonomi Tuhan tersebut.
1. PERSEMBAHAN KOLEKTE akan menuai KEMURAHAN TUHAN (Mazmur 96:8)
Oleh karena itu Firman Tuhan menyuruh umatnya membawa persembahan kepada Tuhan waktu beribadah/kebaktian, supaya nanti di masyarakat kita akan menuai kemurahan-kemurahan yang Tuhan kirim buat kita. Nantinya orang-orang yang datang pada kita adalah orang yang membawa hasil buat usaha, pekerjaan, dan kehidupan ekonomi yang baik buat keluarga kita.
2. PERSEMBAHAN UCAPAN SYUKUR akan menuai PERLINDUNGAN TUHAN (Amsal 28:27)
Setiap manusia memerlukan perlindungan dan keselamatan dari Tuhan, karena itu kita memberi persembahan ucapan syukur (persembahan ketika kita mendapat berkat, pertolongan dari Tuhan) sebagai tanda terima kasih. Maka malaikat Tuhan senantiasa melindungi kita. (Mazmur 34:8)
3. PERSEMBAHAN DIAKONIA (SOSIAL) akan menuai KESEJAHTERAAN (Amsal 28:27)
Pada masa masih mampu dan sehat kita perlu menyisihkan sebagian berkat yang kita terima untuk membantu saudara kita yang tidak berdaya, miskin, cacat, yatim piatu, janda tua dan orang jompo. Maka pada saat roda kehidupan berputar dan kita yang tergeletak tidak berdaya (tua, sakit, susah, dll) tangan Tuhan akan menopang kita dengan cara mengirim orang-orang yang peduli dengan kita. Perlu diingatkan disini bahwa orang malas bukanlah orang miskin, karena ada tertulis. (2 Tesalonika 3:10)
4. PERSEMBAHAN KHUSUS (MISI GEREJA) akan menuai RUMAH dan HARTA (Keluaran 35:21)
Siapa yang peduli dengan pekerjaan dan misi Tuhan maka Tuhan akan peduli padanya, karena jerih payah kita tidak akan sia-sia sesuai janji Tuhan (1 Korintus 15:58). Bila kita tidak menabur kepedulian akan kebutuhan gereja baik dalam pembangunan maupun kebersihannya, mana mungkin Tuhan memberkati rumah kita. (Hagai 1:9-10)
5. PERSEMBAHAN KASIH (HAMBA TUHAN) akan menuai PENGHARGAAN (1 Korintus 9:14)
Setiap keringat dan jerih payah seseorang harus dihargai, demikian juga para hamba Tuhan dan pelayan Tuhan harus dihormati. Sesuatu yang kita berikan kepada seseorang hamba/pelayan Tuhan ada tanda penghargaan kepada jerih payah mereka dalam melayani kerohanian kita. Jika kita menghargai mereka, maka dalam masyarakat, usaha, pekerjaan, keringat dan jerih payah kita pun akan menuai penghargaan yang layak. Oleh karena itu jangan sekali-kali mengusik/menghina hamba Tuhan yang diurapi-Nya. Apa yang kita tabur itu yang akan kita tuai juga.
6. PERSEMBAHAN NAZAR (JANJI IMAN) akan menuai JANJI TUHAN (Pengkhotbah 5:3-4)
Segala sesuatu yang kita janjikan kepada Tuhan melalui Gereja, Hamba Tuhan, Rohaniwan itu adalah “nazar” yang harus dilakukan. Janganlah sampai kita mengingkari apa yang pernah kita ucapkan kepada Tuhan. Bila itu terjadi maka janji Tuhan dalam Firman-Nya tidak akan digenapi dalam hidup kita.
7. PERSEMBAHAN SULUNG (HASIL PERTAMA) akan menuai KETURUNAN DAN USAHA (Keluaran 13:1-2)
Persembahan sulung adalah persembahan yang diberikan ketika kita menerima pertama kali berkat atau kasih karunia pertama, yaitu ketika melahirkan anak pertama/sulung, gaji pertama, keuntungan usaha pertama, dll. Dengan demikian berkat Tuhan dalam keturunan dan usaha akan selalu berkesinambungan dalam hidup kita. (Amsal 3:9)
8. PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN akan menuai KEKAYAAN (Maleakhi 3:10)
Berkat kekayaan Tuhan akan turun bila kita menerima perjanjian dengan Tuhan yang telah disepakati oleh Tuhan dan Yakub yang adalah Israel. Pada saat Yakub tidak berdaya Tuhan berjanji akan memberkatinya, kemudian Yakub membalas dengan berjanji akan membangun Rumah Tuhan dan memberi persepuluhan dari segala penghasilannya.
Sejarah perjanjian itu bisa dibaca pada kitab Kejadian pasal 27 dan 28 :
  • Janji Tuhan kepada Yakub (Kejadian 28:14)
  • Janji Yakub kepada Tuhan (Kejadian 28:22)
  • Tuhan memenuhi janji-Nya kepada Yakub (Kejadian 31:13)
  • Keturunan Yakub (umat Tuhan) mengingkari janjinya (Maleakhi 3:8-9)
Dalam hal ini sebagai umat Tuhan yang setia kita telah mengikat perjanjian dengan Tuhan. Sudah seharusnya kita memegang teguh segala perjanjian yang telah tertulis. Alkitab yang kita pegang sesungguhnya adalah kitab perjanjian antara anak manusia dengan Sang Pencipta. Yang menjadi pertanyaan, apakah perjanjian persepuluhan masih berlaku? Maka jawabannya adalah Matius 5:18. Sampai sekarang memang belum terjadi dan belum tergenapi. “Bait Suci” di Israel menjadi rumah TUHAN. Karena itulah persembahan persepuluhan ini masih dijalankan, dan adalah kewajiban kita sebagai ahli waris Kerajaan Sorga untuk membuat tugu yang didirikan Yakub itu menjadi “gereja” dan membayar persepuluhan yang telah dijanjikan tersebut untuk pembiayaannya.
KESIMPULAN :
Kesimpulan akhir adalah segala bentuk persembahan sesungguhnya adalah kasih karunia Tuhan kepada umatNya untuk menabur di ladang Tuhan, dan pada akhirnya kita juga yang menuai hasilnya sesuai janji Tuhan. Persembahan adalah Rahasia Ekonomi Tuhan untuk kita membangun masa depan yang sukses. Percayalah kepada janji Tuhan! (Mazmur 123:5-6)
Menarik bukan? Okay, kita sama sama mulai dari sekarang action. Ketika kita sudah tahu dan paham, jangan lupa untuk action dan percayalah buahnya suatu saat kita akan menuainya.
God bless you all…
(Sumber: Ev. Harun Yusuf)

Menyentuh TUHAN !

Markus 5: 21-34 menggambarkan seorang wanita yang telah sakit selama dua belas tahun. Dia mungkin sudah mencari dokter terabaik saat itu, tapi mereka tidak memberinya bantuan dan tidak ada harapan. Dia mungkin bahkan menderita perawat dirinya dan melalui banyak masalah. Tahun demi tahun berlalu tanpa kesempatan baik di alami wanita ini. Tapi satu hari, ia mendengar bahwa Yesus datang ke kotanya. Berita telah menyebar dan mukjizat terjadi di mana-mana Dia pergi. Saya bisa membayangkan sesuatu yang jauh di dalam lubuk hati wanita ini bangkit dan berkata, "Ini adalah waktu aku. Ini adalah waktu saya sembuh."


Ketika Yesus tiba, tentu saja orang banyak berkumpul. Perempuan itu melihat semua orang di sekitar-Nya dia mungkin berpikir, "Aku tidak akan pernah mendapatkan perhatian-Nya. Ini sangat ramai dan aku lemah. Aku berpikir saya bisa melakukan ini." Dia bisa saja hampir ketinggalan waktu kesembuhannya. Saya bisa membayangkan bahwa ia berjuang melawan pikiran-pikiran negatif seperti yang kita semua lakukan jika kita berada di posisinya. Aku bisa membayangkan dia mendorong dirinya sendiri dan berkata berulang-ulang, "Jika aku bisa cukup dekat untuk menyentuh jubah-Nya, aku tahu bahwa aku akan menjadi sembuh." Alkitab mengatakan bahwa dia terus maju kedepan melalui kerumunan sampai dia cukup dekat dengan Yesus kemuidan menjangkau dan menyentuh tepi jubah-Nya. Seketika, dia itu juga membuat seluruh dirinya sembuh!


Yang menarik adalah bahwa Yesus benar-benar merasakan sentuhan imannya. Coba Anda berpikir tentang hal itu, Dia berada di kerumunan banyak orang. Mereka menabrak Nya dan menyentuh-Nya kiri dan kanan. Tapi kontak wanita ini bukan hanya sentuhan biasa. Itu adalah sentuhan iman dan harapan; dan itu berdampak dan dirasakan Yesus. Wanita ini melepaskan imannya sepenuhnya mengharapkan untuk disembuhkan, dan Yesus merasa aliran penyembuhan dari-Nya.


Hari ini, ingat bahwa  iman kita yang membuka pintu bagi kuasa Tuhan untuk bekerja dalam hidup kita. Apa yang telah Anda percaya kepada Tuhan? Jangan menyerah! Tersu maju lalui semua tekanan! Tahun-tahun mungkin telah berlalu, seperti wanita ini, tetap berdoa. Teruslah memohon. Terus mencari karena Allah setia! Saat Anda berjuang melalui semua itu, Tuhan akan meuwujudkan iman anda dengan kekuatan ajaib-Nya, dan Anda akan melangkah maju dalam kemenangan yang Dia telah rencanakan untuk Anda !


Markus 5:34 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"

Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan tulisan ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati

Berpusat Pada Kristus

Firman Tuhan : Yohanes 4:25-26  Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami." Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau."

Selengkapnya Baca: Yohanes 4:15-26

Bertemu dengan Yesus membuat orang harus berhadapan dengan kebenaran. Saat itulah segala dosa dan ketidaklayakan tersingkap dan menjadi nyata.

Pertemuan Yesus dengan perempuan Samaria membongkar kebejatan dirinya. Ia tinggal bersama seorang laki-laki tanpa menikah. Laki-laki itu adalah laki-laki keenam yang pernah tinggal bersama dia (ayat  Yoh 4:16-18). Lalu terbongkar juga konsepsi yang salah tentang penyembahan. Orang Samaria, sama seperti orang Israel, memiliki pandangan bahwa ibadah harus dilakukan di satu tempat tertentu saja (ayat  Yoh 4:20). Bedanya orang Samaria menyembah yang tidak mereka kenal (ayat  Yoh 4:22). Ini berkaitan dengan kesalahan nenek moyang mereka, yang mencampuradukkan penyembahan kepada dewa asing dan kepada Yahweh sebagai akibat kawin campur.

Yesus menyatakan bahwa penyembahan kepada Allah tidak dibatasi oleh tempat (ayat  Yoh 4:21). Allah adalah Roh. Keberadaan-Nya tidak terbatas di satu tempat tertentu saja. Ia dapat ditemui umat-Nya di mana saja dan kapan saja. Maka yang penting bukanlah di mana tempat kita menyembah, tetapi bagaimana kita menyembah Dia. Allah adalah roh maka orang harus menyembah Dia di dalam roh dan kebenaran (ayat  Yoh 4:23). Hanya orang yang dilahirkan dari roh ( Yoh 3:5) yang dapat menyembah Dia di dalam roh (ayat  Yoh 3:24). Hanya orang yang percaya penyataan Allah di dalam Yesus, yang dapat dibebaskan dari dosa dan menyembah Allah di dalam kebenaran.

Kini pun banyak orang yang beribadah dalam ketidaklayakan, kesalahan, dan mengutamakan hal-hal yang bersifat eksternal. Pendukung terciptanya suasana ibadah seperti tempat yang nyaman, liturgi yang menggugah, atau paduan suara yang megah tidaklah salah, tetapi bukan yang utama. Ibadah yang sejati adalah persekutuan manusia seutuhnya dengan Allah dalam segenap kemuliaan dan kebenaran-Nya. Ibadah sedemikian bukan sesuatu yang bersifat mekanis, bukan juga ritual belaka. Ibadah adalah hasil karya Roh Kudus di dalam hidup orang beriman.


Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan tulisan ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati

October 30, 2016

Yesuslah Jawaban

Yohanes 6:26 - 27 Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."

Baca Selengkapnya: Yohanes 6:25-40

Yesus menegur orang banyak yang mencari Dia karena ingin mendapatkan lagi roti hasil mukjizat (ayat Yoh 6:26). Mereka mencari Dia bukan karena gerak hati, melainkan perut. Padahal mukjizat yang telah Dia lakukan merupakan tanda keilahian-Nya (ayat Yoh 6:27). Seharusnya mereka mencari Yesus karena Dialah Anak Allah, Mesias bagi Israel.

Mereka berpikir salah karena merasa mampu memenuhi kehendak Allah (ayat Yoh 6:28). Mereka tidak sadar bahwa Yesus justru dikaruniakan Allah bagi manusia, yang jelas tidak berdaya untuk menyenangkan hati Allah. Yesus cepat mengoreksi kesalahan pendapat tersebut. Yesus mengingatkan mereka bahwa pekerjaan yang dikehendaki Allah ialah percaya kepada Kristus yang telah diutus Allah (ayat Yoh 6:29). Lalu mereka menuntut bukti kemesiasan Yesus (ayat Yoh 6:30). Jika Musa dapat menyediakan manna selama 40 tahun di padang belantara, seharusnya Yesus dapat melakukan yang lebih baik dari itu (ayat Yoh 6:31).

Dengan jalan ini, sesungguhnya mereka sedang menginginkan Yesus memproduksi roti yang lebih baik dari manna dan dalam waktu yang lebih lama dari 40 tahun! Nyata sekarang bahwa perhatian mereka hanya tertuju pada makanan. Mereka memandang Yesus hanya sebagai penyedia roti. Kalau dibandingkan dengan Musa, jelas bukan Musa yang menyediakan manna, melainkan Allah! Lagi pula Yesus datang bukan hanya untuk menyediakan roti, melainkan datang sebagai roti dari surga. Yesus ingin mengangkat pemahaman mereka dari hal-hal duniawi pada hal-hal rohani. Yesus pun menghendaki agar mereka mencari Dia karena adanya kelaparan rohani, seperti roti yang diperlukan bagi kebutuhan jasmani.

Seperti besarnya hasrat kita untuk mencari makanan ketika merasa lapar, begitulah kiranya kita mencari Yesus sebagai jawaban bagi kelaparan rohani kita. Dialah yang kita butuhkan di dalam hari-hari yang kita jalani. Dia harus diundang masuk ke dalam hidup kita untuk menghidupkan dan menopang kehidupan kita. Dialah kebenaran dan Dialah jalan menuju kehidupan kekal.


Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan tulisan ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

Inspirasi: Balasan Berkat dari Segelas Susu

Adalah anak lelaki miskin yang kelaparan dan tak punya uang. Dia nekad mengetuk pintu sebuah rumah untuk minta makanan. Namun keberaniannya lenyap saat pintu dibuka oleh seorang gadis muda. Dia urung minta makanan, dan hanya minta segelas air.
Tapi sang gadis tahu, anak ini pasti lapar. Maka, ia membawakan segelas besar susu. “Berapa harga segelas susu ini?” tanya anak lelaki itu.

“Ibu mengajarkan kepada saya, jangan minta bayaran atas perbuatan baik kami,” jawab si gadis.

“Aku berterima kasih dari hati yang paling dalam… ” balas anak lelaki setelah menenggak habis susu tersebut.

Belasan tahun berlalu…

Gadis itu tumbuh menjadi wanita dewasa, tapi didiagnosa punya sakit kronis. Dokter di kota kecilnya angkat tangan. Gadis malang itu pun dibawa ke kota besar, di mana terdapat dokter spesialis.

Dokter Howard Kelly dipanggil untuk memeriksa. Saat mendengar nama kota asal wanita itu, terbersit pancaran aneh di mata sang dokter.

Bergegas ia turun dari kantornya menuju kamar wanita tersebut. Dia langsung mengenali wanita itu. Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya wanita itu berhasil disembuhkan. Wanita itu  pun menerima amplop tagihan Rumah Sakit. Wajahnya pucat ketakutan, karena dia tak akan mampu bayar, meski dicicil seumur hidup sekalipun. Dengan tangan gemetar, ia membuka amplop itu, dan menemukan catatan di pojok atas tagihan…

“Telah dibayar lunas dengan segelas susu …” Tertanda, dr. Howard Kelly.

(dr. Howard Kelly adalah anak kelaparan yang pernah ditolong wanita tersebut. Cerita disadur dr buku pengalaman dr. Howard dalam perjalanannya melalui Northern Pennsylvania, AS)

Begitulah …

Jangan ragu berbuat baik dan jangan mengharap balasan. Pada akhirnya, buah perbuatan akan selalu mengikuti kita. We will harvest what we plant..

Galatia 6:10  Jadi, selama ada kesempatan bagi kita, hendaklah kita berbuat baik kepada semua orang, terutama sekali kepada saudara-saudara kita yang seiman.


Sumber: Internet


Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan seri Inspirasi  dan kesaksian ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

Mengapa Yesus harus mengalami begitu banyak penderitaan?

Yesaya 52:14 menyatakan, “Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia—begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi.” 

Yesus amat menderita selama diadili, disiksa dan disalibkan (Matius pasal 27, Markus pasal 15, Lukas pasal 23, Yohanes pasal 19). Sengeri apapun penderitaanNya secara fisik, itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan rohani yang harus dijalaniNya. 

Melalui 2 Korintus 5:21, Paulus menyatakan, “ Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Yesus menanggung dosa seluruh dunia di atas diriNya (1 Yohanes 2:2). 

Adalah dosa yang mengakibatkan Yesus berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46). 

Jadi, sekeji apapun penderitaan fisik Yesus, itu tidak sebanding dengan penderitaanNya ketika harus menanggung dosa-dosa kita – dan mati bagi dosa-dosa kita (Roma 5:8).

Yesaya 53, khususnya ayat 3 dan 5 menubuatkan penderitaan Yesus, “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. “ Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” 

Mazmur 22:14-18 adalah bagian Alkitab lain yang menubuatkan penderitaan sang Mesias, “Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku; kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku. Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku. Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.”

Mengapa Yesus harus menderita separah itu? Sebagian orang memikirkan bahwa penderitaan Yesus secara jasmaniah merupakan bagian dari hukuman yang ditanggungNya untuk dosa-dosa kita. Pada saat bersamaan, penganiayaan yang dialami oleh Yesus berbicara nyaring mengenai kebencian dan kekejian umat manusia daripada mengenai hukuman Allah untuk dosa. 

Kebencian Iblis kepada Allah dan Yesus secara mutlak merupakan bagian dari motivasi di balik penganiayaan dan perlakuan semena-mena itu. Penderitaan Yesus menjadi contoh utama mengenai apa yang dirasakan oleh manusia yang berdosa terhadap Allah (Roma 3:10-18).



Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan tulisan ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

Yesus Gembala Yang Baik

Yohanes 10:11-12  Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.

Selengkapnya Baca: Yohanes 10:11-21

Dalam hidup yang penuh tantangan dan mara bahaya, betapa melegakan jika kita mendengar suara Yesus yang menyatakan "Akulah gembala yang baik" (ayat  Yoh 10:11). Penyataan Yesus itu mau menunjukkan bahwa Yesus bukan hanya gembala yang melindungi domba-domba-Nya, tetapi Ia rela "memberikan nyawa bagi kepentingan domba-domba." Ini dikontraskan dengan "orang upahan" yang hanya mencari keselamatan sendiri saja.

Orang upahan adalah hal yang umum di Palestina. Mereka dibayar untuk tugas menggembalakan dan tentunya juga diharapkan oleh pemilik domba untuk bisa menggembalakan dengan baik termasuk berjuang menghalau binatang buas (ayat  Yoh 10:12). Namun karena ia bukan pemilik domba-domba, ia tidak mempunyai hubungan yang intim dengan domba-domba. Sebab itu ketika melihat "serigala" datang, ia akan lari menyelamatkan dirinya sendiri dan membiarkan domba-domba diterkam dan tercerai berai. Orang upahan gagal menjalankan tugasnya ketika menghadapi bahaya.

Sebaliknya gembala sejati akan memelihara domba-dombanya dengan taruhan nyawa. Ia rela kehilangan hidupnya sendiri demi mempertahankan hidup kawanan dombanya. Daud adalah contoh gembala yang baik, yang siap menyabung nyawa demi menyelamatkan domba-dombanya dari cengkeraman binatang buas (ayat  1Sam 17:35). Yesus sebagai gembala yang baik rela memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (ayat  1Sam 17:15b). Ia rela mati di kayu salib supaya yang percaya kepada-Nya mempunyai hidup.

Pengorbanan Yesus bukanlah suatu akhir karena Ia akan menerimanya kembali (ayat  1Sam 17:17). Pengorbanan Yesus juga berdasarkan tindakan bebas Yesus dan bukan sebagai korban situasi (ayat  1Sam 17:18). Yesus memiliki kuasa untuk tidak mengorbankan nyawa-Nya, tetapi dengan sukarela Ia telah memilih untuk mengorbankan nyawa-Nya demi kepentingan umat-Nya. Adakah kita sungguh bersyukur atas pengorbanan Sang Gembala yang baik yang telah menyelamatkan kita?


Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan tulisan ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

October 29, 2016

Cinta Mengusir Ketakutan Dalam Hubungan Anda

Bacaan Hari ini:
1 Yohanes 4:18 "Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barang siapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih."

"Aku membencimu!"

Ketika orang mengatakan hal itu dalam banyak hubungan, biasanya itu tanda bahwa seseorang mencoba untuk mengendalikan yang lain. Apa yang ada di balik kontrol itu? Ketakutan. Kekuatiran menyebabkan kita mencoba untuk mengendalikan orang lain atau melawan kendali orang lain. Ketika Anda merasa begitu kuatir, yang ada di pikiran Anda hanyalah tentang apa yang orang lain pikirkan tentang Anda. Inilah yang menghancurkan hubungan dan yang melumpuhkan hidup Anda.

Sungguh dilema yang luar biasa yang kita miliki sebagai manusia: Kita ingin menjadi dekat, tapi juga takut menjadi dekat. Kita rindu untuk memiliki hubungan yang erat dengan orang lain, tapi kita juga amat takut menjalaninya.

Kekuatiran menghalangi keeratan dan melenyapkan hubungan Anda. Anda tak bisa menjadi dekat dengan seseorang apabila ada rasa takut dalam hubungan tersebut. Bila kekuatiran menghancurkan hubungan, lalu apa yang bisa membangunnya? Kasih! Kasih membangun hubungan.

Alkitab mengatakan dalam 1 Yohanes 4:18, "Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. Bagaimana cara kerjanya? Bagaimana bisa kasih mengusir semua ketakutan?"

Kasih mengganti fokus perhatian Anda, dari semula berpusat pada Anda menjadi kepada orang lain. Orang sering bertanya pada saya, "Apakah Anda gugup ketika berbicara di hadapan orang banyak di Saddleback Chruch?" Jawab saya, "Tentu saja!" Tapi Anda tahu apa yang membuat perbedaan? Saya mengalihkan fokus, dari diri saya kepada orang-orang di depan saya. Jika saya berdiri di mimbar memikirkan apa yang mereka pikirkan tentang gaya rambut saya, itu artinya saya punya sesuatu yang saya takutkan, kan? Tapi begitu saya mulai berpikir akan betapa saya mencintai keluarga gereja saya dan bagaimana kami melayani Tuhan bersama-sama, tiba-tiba ketakutan itu hilang. Ini sama dengan hubungan apapun. Fokus pada orang lain memberi Anda kekuatan untuk memusnahkan rasa takut dari hidup Anda.

Jadi bagaimana caranya mendapatkan kekuatan untuk fokus kepada orang lain? Dengan mengerti betapa Allah mengasihi Anda. Begitu Anda mulai memahami betapa Allah mengasihi Anda, Anda tak perlu membuktikannya pada diri Anda lagi. Anda tak perlu lagi menghabiskan hidup Anda berusaha untuk mengesankan orang lain sebab Anda sudah tahu bahwa Allah mengasihi Anda.

Tahukah Anda betapa membebaskan dan menyenangkannya hidup seperti itu? Identitas dan harga diri Anda tidak ditentukan oleh apa yang orang lain pikirkan tentang Anda. Ketika Anda aman dalam hubungan Anda dengan Kristus, Anda tidak lagi merasa tertekan oleh ekspektasi orang lain terhadap Anda. Kasih Allah membebaskan Anda untuk mengasihi orang lain tanpa rasa takut.

Renungkan hal ini:

Apa kekuatiran atau ketakutan yang mencegah Anda untuk membuka kehidupan dan hati Anda kepada seseorang, baik itu kepada teman, pasangan, atau anggota keluarga?

Bagaimana budaya dunia malah menguatkan kekuatiran kita dalam hubungan-hubungan kita?

Menurut Anda, apa yang Allah pikirkan tentang Anda? Apa yang Dia lihat ketika melihat Anda?

 Bacaan Alkitab Setahun :
2 Raja-raja 24-25; Yohanes 5:1-24

Kasih Allah membebaskan Anda untuk mengasihi orang lain tanpa rasa takut

Apa itu keselamatan? Apakah doktrin Kristen mengenai keselamatan?

Keselamatan adalah pembebasan dari bahaya atau penderitaan. Menyelamatkan berarti melepaskan atau melindungi. 

Kata ini mengandung makna kemenangan, kesehatan, atau kelangsungan hidup. Kadang Alkitab juga mempergunakan kata diselamatkan atau keselamatan untuk merujuk pada kelepasan fisik yang bersifat sementara, seperti misalnya dilepaskannya Paulus dari penjara (Filipi 1:19). 

Lebih sering, kata keselamatan berhubungan dengan kelepasan rohani yang kekal. Ketika Paulus memberitahu kepala penjara Filipi bagaimana dia dapat diselamatkan, Paulus merujuk pada keadaan yang kekal (Kisah 16:30-31). Yesus menyamakan diselamatkan dengan memasuki kerajaan Allah (Matius 19:24-25). 

Kita diselamatkan dari apa? Dalam doktrin Kristen mengenai keselamatan, kita diselamatkan dari “murka”; yaitu dari penghakiman Allah terhadap dosa (Roma 5:9;1 Tesalonika 5:9). 

Dosa telah memisahkan kita dari Allah, sementara konsekuensi dosa adalah kematian (Roma 6:23). Keselamatan dalam Alkitab merujuk pada pelepasan dari konsekuensi dosa dan karena itu termasuk penghapusan dosa. 

Siapa yang menyelamatkan? Hanya Allah yang dapat menyingkirkan dosa dan melepaskan kita dari hukuman dosa (2 Timotius 1:9; Titus 3:5).

Bagaimana Allah menyelamatkan? Dalam doktrin Kristen mengenai keselamatan, Allah menyelamatkan kita melalui Kristus (Yohanes 3:17). 

Secara khusus, kematian Yesus di atas salib dan kebangkitanNya itulah yang menghasilkan keselamatan kita (Roma 5:10; Efesus 1:7). Kitab Suci jelas menyatakan bahwa keselamatan diberikan sebagai anugerah, hadiah yang kita tidak layak dapatkan dari Allah (Efesus 2:5, 8), dan hanya tersedia melalui iman di dalam Yesus Kristus (Kisah 4:12)

Bagaimana kita menerima keselamatan? Kita diselamatkan melalui iman. Pertama-tama kita mesti mendengar Injil – kabar baik mengenai kematian dan kebangkitan Yesus (Efesus 1:13). 

Kemudian kita mesti percaya – menerima Yesus secara penuh (Roma 1:16). Hal ini meliputi pertobatan, perubahan pikiran mengenai dosa dan Kristus (Kisah 3:19), dan berseru kepada nama Tuhan (Roma 10:9-10, 13). 

Definisi doktrin Kristen mengenai keselamatan berbunyi: “Pelepasan rohani dan kekal yang Allah secara langsung anugrahkan kepada mereka yang menerima syarat-syaratnya untuk bertobat dan beriman di dalam Yesus Kristus.” 

Keselamatan hanya tersedia melalui iman kepada Yesus saja (Yohanes 14:6; Kisah 4:12), dan hanya bergantung kepada penyediaan, kepastian dan jaminan dari Allah semata-mata.


Sumber : gotquestions.org
Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan seri pelajaran ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

Tuhan Menguatkan Anda

Firman Tuhan Hari ini: 
Roma 8: 26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

Terkadang orang mengalami rasa terganggu oleh apa yang mereka anggap sebagai kelemahan atau kelemahan dalam hidup mereka. Ini mungkin tentang kepribadian mereka atau ada yang mereka tidak suka. Atau mungkin mereka telah melalui situasi yang tidak adil: perceraian, kesepakatan bisnis yang buruk atau waktu tidur yang buruk. Kita semua memiliki hal-hal yang dapat merasa seperti suatu kerugian; hal-hal yang membuat jadi lebih sulit untuk kita.

Atau mungkin cacat fisik, anda tidak seperti dulu lagi. Tapi bukan karena Anda memiliki "kelemahan," dan karena Anda telah melalui waktu yang sulit bukan berarti Anda harus duduk diam meratapi keberadaan anda. Tuhan masih memiliki sesuatu yang besar untuk Anda lakukan! Ia ingin menunjukkan diri-Nya yang kuat di dalam dan melalui Anda, dan Dia memberi kamu Roh Kudus-Nya untuk membekali Anda dalam hidup ini.

Hari ini mari Roh Kudus membantu Anda ketika Anda merasa lemah. Biarkan Dia memberdayakan Anda dengan kebenaran yang akan membebaskan Anda. Tetap dalam iman dan jangan berpikir negatif terhadap diri sendiri atau masa depan Anda. Biarkan Tuhan mengambil apa yang Anda pikirkan adalah kewajiban dan mengubahnya menjadi aset yang menguntungkan! Biarkan Dia mengambil apa yang Anda pikirkan adalah kelemahan dan mengubahnya untuk menjadi keuntungan! Ingat, Anda adalah orang yang lebih dari pemenang hari ini dan setiap hari karena Tuhan ada dan kuat dalam Anda!

Doa Hari Ini
"Bapa, hari ini aku berikan semua kepadaMu. Aku mengundang Engkau masuk ke tempat-tempat terlemah dalam hidupku sehingga Engka dapat mengubahnya menjadi kekuatan. Terima kasih Tuhan Engkau bekerja dalam hidupku dan mengisi Aku dengan iman dan harapan dalam nama Tuhan Yesus. Amin."

Mari bantu kami untuk menjangkau lebih banyak jiwa dengan menyebarkan tulisan ini Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

October 28, 2016

Kasih, Iman dan Kebijaksanaan

Aku dan Tuhan berdiri mengamati pertandingan baseball. Tim Tuhan melawan tim iblis. Score sangat ketat 0-0 dan ini adalah putaran terakhir. Kami memperhatikan seorang pemukul bernama Kasih masuk ke lapangan. Kasih mulai memukul dan berhasil mencetak score single karena Kasih tak pernah gagal.

Pemukul selanjutnya bernama Iman, yang juga berhasil mencetak score karena Iman selalu bersama-sama dengan Kasih.

Lalu masuk seorang pemukul bernama Bijak. Iblis melakukan lemparan pertama dan Bijak hanya membiarkannya. Tiga kali lemparan dan Bijak hanya melangkah pergi karena Bijak tidak pernah mengambil apapun yang Iblis lemparkan.

Lalu Tuhan melihat ke arahku dan berkata bahwa Ia akan mengeluarkan pemain andalanNya. Lalu datanglah Karunia. Aku berkata: sepertinya ia tidak terlalu hebat…

Tim Iblis sangat santai begitu mereka melihat Karunia. Berpikir bahwa mereka hampir memenangkan pertandingan, Iblis pun melempar bola dgn sekuat tenaga.

Dan sangat mengejutkan semua orang, Karunia memukul bola kencang sekali melebihi pemain-pemain sebelumnya.

Tapi Iblis tidak khawatir..pemain tengah mereka jarang gagal menangkap bola. Iblis berlari mengejar bola, tapi bola malah lepas dari tangan, menghantam kepalanya dan iblis pun jatuh tersungkur ke tanah.

Karunia bersama Kasih, Iman dan Bijak terus berlari sampai home run. Tim Tuhan menang!!

Lalu Tuhan bertanya kepadaku mengapa Kasih, Iman dan Bijak tidak bisa home run tanpa Karunia? Aku menjawab tidak tahu.

Tuhan menjelaskan: “Kalau kasihmu, imanmu dan kebijaksanaanmu yang memenangkan pertandingan, engkau akan berpikir bahwa engkaulah yang melakukan semuanya. Kasih, Iman dan Kebijaksanaan akan mengantarmu mencapai semua hal-hal yg baik, tapi hanyalah KaruniaKu sajalah yg akan membawamu ke dalam kemenangan, sampai di rumah Bapa dengan selamat. KaruniaKu adalah satu-satunya yang tidak dapat dicuri Iblis."

Sumber: Berbagai Sumber Internet

Mengerti Kebenaran-Nya adalah Anugerah

Matius 13:11-12  Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.

Baca Selengkapnya: Matius 13:1-23

Banyak Kristen datang beribadah, namun ketika mereka meninggalkan ruang ibadah, apakah dengan pengertian yang sama? Ada yang hanya mendengar namun sibuk dengan pikirannya sendiri; ada yang mendengar tetapi tidak mengerti; ada yang mendengar tetapi kemudian menafsirkannya sendiri; ada juga yang sungguh-sungguh mendengar dan mengerti kebenarannya. Tempat yang sama, nas Alkitab yang sama, dan pengkhotbah yang sama, tidak menentukan jemaat yang hadir mendapatkan pengertian yang sama pula. Mengapa demikian? Mengerti kebenaran firman-Nya adalah anugerah, yang dinyatakan bagi mereka yang mau terbuka kepada kebenaran-Nya.

Inilah yang dijelaskan Yesus ketika murid-murid-Nya menanyakan mengapa Ia memakai metode perumpamaan. Banyak orang berbondong-bondong datang, tetapi seperti nubuat nabi Yesaya bahwa mereka mendengar dan melihat namun tidak mengerti. Bukan karena Ia tidak mau menyatakan kebenaran kepada mereka, tetapi karena mereka yang mengeraskan hati, sehingga mereka tidak bertemu dengan kebenaran itu, yakni Yesus sendiri. Zaman kini banyak orang berbondong-bondong mencari gereja, tetapi berapa banyak yang sungguh-sungguh mau terbuka kepada kebenaran firman-Nya, sehingga ia mengerti, percaya, dan menyimpan kebenaran itu dalam hatinya? Bukan orang-orang yang secara fisik hadir di gereja yang dapat mengerti kebenaran-Nya, tetapi anugerah pengertian dinyatakan bagi Kristen yang haus akan kebenaran.

Arti perumpamaan seorang penabur adalah bahwa tidak semua orang yang menerima kebenaran kemudian akan berakar, bertumbuh, dan menghasilkan buah. Firman kebenaran itu harus dimengerti (diterima); diresapi (berakar); dihayati sehingga mempengaruhi pola pikir, perilaku, gaya hidup (bertumbuh); dan dipertahankan sampai menghasilkan berlipatganda (berbuah). Pergumulan, masalah, kesulitan, kekuatiran, dan segala bentuk tantangan akan merupakan ujian bagi Kristen, apakah Kristen sanggup berakar, bertumbuh, dan kemudian berbuah di tengah dunia yang menentang kebenaran.

Renungkan: Mengerti kebenaran-Nya adalah anugerah. Milikilah sikap terbuka untuk mengerti dan kemudian mengizinkan kebenaran itu mengubah hidup Anda, maka hidup Anda akan berbuah berlipatganda. 

Keteguhan Iman Umat Kristen Korea Utara

Korea Utara terkenal karena rezim komunis dan tindakan penganiayaan terhadap orang-orang Kristen. Namun, gereja bawah tanah di negara tersebut memberikan sebuah pesan yang mengejutkan bagi umat Kristen yang berada di Amerika Serikat.

Dr Eric Foley, pimpinan dari Voice of Martyrs v, mengatakan pintu bagi Injil di Korea Utara terbuka lebih lebar dari banyak orang dapat percayai.

"Orang-orang cenderung berpikir tentang Korea Utara sebagai negara dengan pagar kawat berduri besar di sekitarnya, di mana tak seorang pun masuk, dan tak seorang pun keluar," ujar Dr Foley sebagaimana dikutip cbn.com, Kamis (27/10). "Dan itu bukan gambaran yang sangat akurat."

Namun, di bawah rezim komunis, orang-orang Kristen pada dasarnya disamakan dengan teroris, ujar Foley. Alkitab, gereja, dan pertemuan doa adalah ilegal dan banyak orang percaya telah dieksekusi atau pun dipaksa ke kamp-kamp konsentrasi.

Meskipun terus berada dalam ancaman kematian, Foley mengatakan umat Kristen di Korea Utara kuat dan kreatif dalam membagikan iman mereka. Tentang hal ini, Foley telah tulis di dalam bukunya, Here Are The Generations.

"Rakyat Korea Utara menghadapi kesulitan besar, tetapi bukan berarti ada awan hitam menggantung di atas orang-orang dari bangsa ini," ucap Foley. "Mereka memiliki sukacita dan kekuatan serta harapan juga."

Foley bekerja sepanjang waktu untuk mengubah perspektif Barat tentang Kristen di Korea Utara.

"Seringkali pembawa acara radio memperkenalkan saya dengan mengatakan, 'Ini adalah tempat terburuk di dunia untuk menjadi orang Kristen,'" tuturnya. "Tetapi saya belum pernah mendengar umat Kristen di Korea Utara mengatakannya. Bukan karena hidup mereka tidak sulit, tetapi karena mereka percaya bahwa Allah dekat dengan mereka di dalam cara yang nyata, sesuatu yang beberapa dari kita bahkan tidak mungkin dapat benar-benar membayangkannya."

Foley mengatakan umat Kristen di Amerika Serikat akan terkejut bahwa Umat Kristen di Korea Utara adalah orang-orang yang berdoa dengan setia untuk Amerika Serikat.

Dulu, sambung Foley, ia pernah memberitahukan orang-orang yang dianggap sebagai pembelot oleh pemerintah di Korea Utara bahwa gereja-gereja di Amerika Serikat berdoa untuk Korea Utara, namun ia justru mendapat jawaban yang mengejutkan.

"Anda berdoa bagi kami? Kami berdoa untuk Anda!" ungkap salah satu pembelot Korea Utara kepada Foley. "Masalahnya itu adalah dengan Anda, umat Kristen di Amerika Serikat dan Korea Selatan! Anda telah begitu banyak menaruh iman Anda di uang Anda dan kebebasan Anda. Di Korea Utara, kami tidak memiliki uang atau kebebasan, tetapi kami memiliki Kristus dan itu sudah cukup."

Bahkan, tambah Foley bahwa umat Kristen di Korea Utara tidak berdoa untuk kebebasan seperti yang dimiliki penduduk di Amerika Serikat, karena "kebebasan dalam Kristus adalah sesuatu yang tidak bisa diberikan atau diambil oleh pemerintah."

“Mereka berdoa agar bisa lebih banyak lagi berbuat untuk Tuhan dan merefleksikan Tuhan di dalam kehidupan mereka. Itulah yang seharusnya kita doakan juga untuk kehidupan kita,” pungkas Foley.

Sumber : www1.cbn.com


Iman, Harap, dan Kasih

Ayat Renungan: 1 Kor 13:13  Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Bagaimana penilaian Anda tentang kualitas iman, harap, dan kasih kebanyakan orang Kristen yang Anda kenal? Semisal saudara seiman di gereja atau di kantor Anda? Atau di antara teman sekelompok persekutuan doa atau kelompok pembinaan Anda? Atau supaya lebih spesifik, bagaimana kualitas iman, harap, dan kasih Anda sendiri kepada Tuhan?

Ya, Anda benar. Bahkan di antara orang yang kelihatannya begitu bergairah dalam hal-hal rohani, ternyata kualitas iman, harap, dan kasih bisa sedemikian rendahnya. Kehidupan orang Kristen di Korintus inilah contoh paling jelas. Meskipun jika kita perhatikan beberapa peringatan Tuhan Yesus, Paulus, Petrus, Yakobus, dan Yohanes, ternyata cukup banyak orang Kristen yang harus diingatkan lagi agar prima dalam iman, harap, dan kasih mereka (lihat misalnya:  Luk 18:8;  1Pet 1:13;  Wahy 2:4). Aktif dalam pelayanan, berhasrat menerima bermacam karunia rohani, tidak menjamin bahwa ketiga kebajikan rohani ini pasti baik adanya. Bahkan lebih jauh lagi tidak saja ketiga kebajikan teologis ini mutlak merupakan realitas yang Allah ingin lihat dalam hidup kita; ketiga hal ini pada asal dan akhirnya bertumpu pada kualitas kasih kita kepada Allah!

Bagaimana memastikan agar kita memiliki trio iman Kristen ini secara prima? Jawabnya sederhana, tetapi tak boleh kita sepelekan. Milikilah hubungan dan kehidupan terfokus jelas pada dasar iman, sumber pengharapan, sumber serta tujuan kasih kita, yaitu Yesus Kristus sendiri. Iman kita kuat bukan karena kapasitas alami kita, melainkan karena sang dasar iman memang layak diimani dan terus menerus mengisikan kehidupan iman kita dengan realitas yang menyegarkan iman.

Pengharapan kita kokoh bahkan di tengah gelombang dan goncangan berbagai kesukaran hidup, sebab melalui Roh-Nya Ia terus menerus memberi daya baru agar kita boleh "berharap dalam kondisi tanpa harapan sekalipun." Kasih kita pun akan bergelora dengan nyala yang makin hari makin hangat sebab kasih-Nya sendiri yang membangkitkan respons nyala cinta kita itu. Dan dengan terus menerus berpaut kepada-Nya, iman, harap, dan kasih kita akan penuh dinamika sampai kekal nanti.


Mari bantu kami untuk menjangkau lebih banyak jiwa dengan menyebarkan tulisan ini Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

10 ALASAN UNTUK MEMPERCAYAI ALLAH YANG MENGIJINKAN PENDERITAAN

10 ALASAN UNTUK MEMPERCAYAI ALLAH YANG MENGIJINKAN PENDERITAAN

1. Kebebasan Memilih dapat Mengakibatkan Penderitaan
2. Penderitaan dapat Memperingatkan Kita akan Adanya Bahaya
3. Penderitaan Menyingkapkan Isi Hati Kita
4. Penderitaan Membawa Kita ke Gerbang Kekekalan
5. Penderitaan Melepaskan Ikatan Kita Atas Dunia Ini
6. Penderitaan Memberi Kesempatan untuk Mempercayai Allah
7. Allah Menderita Bersama Kita di Dalam Penderitaan Kita
8. Penguatan dari Allah Lebih Besar Dibanding Penderitaan Kita
9. Dalam Waktu Krisis Kita Saling Mendekatkan Diri Satu Sama Lain
10. Allah Dapat Mengubah Penderitaan untuk Kebaikan Kita


1. KEBEBASAN MEMILIH DAPAT MENGAKIBATKAN PENDERITAAN

Orangtua yang mengasihi cenderung melindungi anak-anaknya dari penderitaan yang tidak perlu. Tetapi orangtua yang bijaksana mengetahui bahwa perlindungan yang berlebihan juga berbahaya. Mereka mengetahui bahwa kebebasan untuk memilih adalah hal hakiki dalam keberadaan manusia, dan bahwa suatu dunia tanpa pilihan akan lebih buruk daripada dunia tanpa penderitaan. Lebih buruk lagi suatu dunia yang dihuni oleh orang yang dapat membuat pilihan salah tanpa merasakan derita sedikitpun. Tak ada yang lebih berbahaya dibanding penipu, pencuri, atau pembunuh yang tidak merasakan kerugian yang dilakukannya terhadap dirinya sendiri dan orang lain. (Kej 2:15-17)

2. PENDERITAAN DAPAT MEMPERINGATKAN KITA AKAN ADANYA BAHAYA

Kita tidak menyukai penderitaan, khususnya derita yang menimpa orang yang kita cintai. Namun bila tidak ada rasa sakit, orang sakit tidak akan pergi ke dokter, tubuh yang lelah tidak akan diberi istirahat, dan anak-anak akan menertawakan nasihat. Tanpa perasaan resah dalam hati nurani, tanpa perasaan tidak puas karena kebosanan hidup sehari-hari, atau tanpa perasaan hampa karena tidak berarti, manusia akan kurang merindukan kepuasan yang seharusnya ditemukannya di dalam Bapa yang kekal. Contoh Salomo, yang tergoda oleh kenikmatan dan mendapat pelajaran melalui penderitaannya, memperlihatkan kepada kita bahwa orang yang paling bijaksana sekalipun cenderung untuk menjauhkan diri dari hal yang baik dan dari Allah sampai akhirnya disadarkan oleh penderitaan yang diakibatkan oleh pilihan-pilihannya yang berwawasan sempit (Pen 1-12; Maz 78:34-35; Rom 3:10-18).

3. PENDERITAAN MENYINGKAPKAN ISI HATI KITA

Penderitaan sering disebabkan oleh orang lain. Namun penderitaan dapat menyingkapkan apa yang ada di dalam hati kita. Kemampuan untuk mengasihi, mengampuni, marah, iri hati, dan kesombongan yang terpendam akan muncul ke permukaan didorong oleh penderitaan. Kekuatan dan kelemahan hati tidak ditemukan ketika segalanya berjalan lancar tetapi ketika api penderitaan dan pencobaan menguji karakter kita. Sebagaimana emas dan perak dimurnikan oleh api, dan sebagaimana batu bara butuh waktu dan tekanan untuk menjadi berlian, demikianlah hati manusia tersingkap dan berkembang dalam tempaan waktu dan situasi-kondisi. Kekuatan karakter tampak bukan ketika segala sesuatu berjalan dengan baik tetapi ketika sakit dan penderitaan datang menimpa (Ayu 42:1-17; Rom 5:3-5; Yak 1:2-5; 1Pe 1:6-8).

4. PENDERITAAN MEMBAWA KITA KE GERBANG KEKEKALAN

Seandainya kematian adalah akhir segalanya, maka suatu kehidupan yang dipenuhi penderitaan adalah tidak adil. Namun jika akhir kehidupan ini membawa kita ke gerbang kekekalan, maka orang yang paling beruntung di dunia ini adalah mereka yang menemukan, melalui penderitaan, bahwa hidup di dunia ini bukanlah segalanya. Orang yang menemukan diri sendiri dan Allahnya yang kekal melalui penderitaan adalah orang yang tidak menyia-nyiakan penderitaannya. Mereka telah mengizinkan kemiskinan, kedukaan, dan kelaparannya untuk membawanya kepada Tuhan kekekalan. Mereka adalah orang-orang yang akan menemukan sukacita tak berkesudahan seperti yang dikatakan Yesus, "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga" (Mat 5:1-12; Rom 8:18-9).

5. PENDERITAAN MELEPASKAN IKATAN KITA ATAS DUNIA INI

Dengan berlalunya waktu, pekerjaan dan pemikiran kita akan semakin berkurang. Tubuh kita semakin memburuk. Berangsur-angsur tubuh menjadi usang. Sendi-sendi menjadi kaku dan nyeri. Mata semakin kabur. Pencernaan lambat. Tidur menjadi sulit. Masalah semakin membesar sementara pilihan semakin sedikit. Namun, jika kematian bukanlah akhir tetapi awal dari hari yang baru, maka masa tua juga suatu berkat. Setiap penderitaan yang baru akan membuat dunia ini kurang menarik dan membuat kehidupan yang akan datang lebih menarik. Dengan caranya sendiri, penderitaan membuka jalan untuk kita meninggalkan dunia dengan tenang (Pen 12:1-14).

6. PENDERITAAN MEMBERI KESEMPATAN UNTUK MEMPERCAYAI ALLAH

Penderita yang paling terkenal sepanjang masa adalah seorang laki-laki bernama Ayub. Menurut Alkitab, Ayub kehilangan keluarganya karena "angin ribut," kekayaannya terbang dan hangus, dan tubuhnya menderita bisul-bisul yang menyakitkan. Dalam kesemuanya itu, Allah tidak pernah memberitahu Ayub mengapa hal itu terjadi. Ketika Ayub menanggung tudingan teman-temannya, Surga tetap membisu. Ketika akhirnya Allah berbicara, Ia tidak memberitahukan Ayub bahwa musuh utama-Nya, si Iblis, telah menguji motif Ayub dalam melayani Allah. Tuhan juga tidak meminta maaf kepadanya karena Ia telah mengizinkan Iblis untuk menguji kesetiaan Ayub terhadap-Nya. Malahan, Allah berbicara tentang kambing-kambing gunung yang melahirkan, singa-singa muda yang memburu mangsanya, dan burung-burung gagak di sarangnya. Dia juga berbicara tentang perilaku burung unta, kekuatan lembu hutan, dan langkah kaki kuda. Allah berbicara tentang keajaiban langit, lautan, dan siklus musim-musim. Ayub diharap dapat menyimpulkan sendiri bahwa jika Allah mempunyai kuasa dan kebijaksanaan untuk menciptakan alam semesta, maka ada alasan untuk mempercayai Allah yang ini dalam masa-masa penderitaan (Ayu 1:1-42:17).

7. ALLAH MENDERITA BERSAMA KITA DI DALAM PENDERITAAN KITA

Tak seorang pun yang pernah menderita lebih daripada Bapa kita di Surga. Tak seorangpun yang pernah membayar harga dosa dunia lebih mahal daripada Dia. Tak seorangpun yang terus menerus sangat berduka ketika umat manusia semakin jahat. Tak seorangpun pernah menderita seperti Dia yang membayar dosa-dosa kita di dalam tubuh Putera-Nya sendiri, tubuh yang disalibkan. Tak seorang pun pernah menderita lebih daripada Dia yang, ketika membentangkan tangan-Nya dan mati, memperlihatkan betapa besar kasih-Nya kepada kita. Inilah Allah yang, dengan menarik kita kepada Diri-Nya, meminta kita untuk mempercayai-Nya ketika kita sedang menderita dan ketika orang-orang yang kita kasihi berkeluh-kesah di hadapan kita (1Pe 2:21; 3:18; 4:1).

8. PENGUATAN DARI ALLAH LEBIH BESAR DIBANDING PENDERITAAN KITA

Rasul Paulus memohon kepada Tuhan untuk menyingkirkan sumber penderitaannya yang tidak jelas. Tetapi Tuhan malah berkata, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." "Sebab itu," kata Paulus, "terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat." (2Ko 12:9-10) Paulus belajar bahwa dia lebih suka bersama Kristus dalam penderitaan daripada tanpa Kristus dalam kesehatan yang baik dan keadaan yang menyenangkan.

9. DALAM WAKTU KRISIS KITA SALING MENDEKATKAN DIRI SATU SAMA LAIN

Tak seorang pun memilih sakit dan penderitaan. Namun ketika tidak ada pilihan lain, kita tetap masih memiliki penghiburan. Bencana alam dan waktu krisis membuka kesempatan untuk mempersatukan kita. Angin ribut, kebakaran, gempa bumi, kerusuhan, penyakit, dan kecelakaan, semuanya mempunyai jalan untuk menyadarkan kita. Tiba-tiba kita menyadari kefanaan kita dan bahwa manusia lebih penting daripada benda. Kita menyadari bahwa kita saling membutuhkan dan di atas segalanya kita membutuhkan Allah. Setiap kali kita mendapatkan penghiburan Allah di dalam penderitaan kita, kemampuan kita untuk menolong orang lain bertambah. Inilah yang ada dalam pikiran Rasul Paulus ketika dia menulis, "Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah." (2Ko 1:3-4)

10. ALLAH DAPAT MENGUBAH PENDERITAAN UNTUK KEBAIKAN KITA

Alkitab memberikan banyak contoh mengenai kebenaran ini. Dalam penderitaan Ayub, kita melihat bahwa bukan hanya pemahamannya mengenai Allah menjadi lebih mendalam, tetapi ia juga menjadi sumber penguatan bagi orang lain dalam setiap generasi selanjutnya. Dalam penolakan, pengkhianatan, perbudakan, dan dimasukkan ke dalam penjara tanpa bersalah, yang terjadi atas Yusuf, kita menyaksikan seseorang yang akhirnya mampu berkata kepada mereka yang telah mencelakakannya, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan." (Kej 50:20) Ketika segala sesuatu di dalam diri kita berteriak ke surga karena Allah mengizinkan kita menderita, kita memiliki alasan untuk berharap bahwa kita akan mendapatkan hasil abadi dan sukacita Yesus, yang di dalam penderitaan-Nya di kayu salib berteriak, "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Mat 27:46)

ANDA TIDAK SENDIRIAN jika ketidakadilan dan penderitaan hidup membuat Anda tidak yakin bahwa Allah di Surga peduli kepada Anda. Tetapi renungkanlah kembali penderitaan Seseorang yang disebut oleh nabi Yesaya sebagai "Seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan." (Yes 53:3) Renungkanlah punggung-Nya yang dicambuk, dahi-Nya yang berdarah, tangan dan kaki-Nya yang berlubang paku, lambung-Nya yang ditikam, pergumulan-Nya yang sangat berat di Taman Getsemani, dan tangis kepedihan-Nya karena ditinggalkan. Renungkanlah pernyataan Kristus bahwa Dia menderita bukan untuk dosa-dosa-Nya melainkan untuk dosa-dosa kita. Untuk memberikan kepada kita kebebasan memilih, Dia membiarkan kita menderita. Namun Dia sendiri yang menanggung penderitaan dan hukuman terakhir bagi semua dosa-dosa kita (2Ko 5:21, 1Pe 2:24).


© 2000-2004 RBC Ministries Asia, Ltd.

Mari bantu kami untuk menjangkau lebih banyak jiwa dengan menyebarkan tulisan ini Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

Anda diberkati dengan website ini ?
Bantu pengembangan website
 lewat Donasi :





Transfer Bank klik:


Berlangganan Melalui Email

Masukan alamat email anda:

Pastikan emailAktif

Data Kunjungan

Blog Archive